
Di sebuah dataran subur di Kabupaten Malang terdapat desa yang namanya begitu unik dan memikat, yaitu Tlogomas. Nama ini mengandung kisah lama yang berkaitan dengan telaga, air, dan berbagai aktivitas masyarakat yang menggantungkan hidup pada alam. Sejak dahulu, wilayah ini dikenal sebagai kawasan yang memiliki sumber air yang sangat penting bagi warga. Air itulah yang menjadi dasar bagi kehidupan, terutama bagi mereka yang memelihara ternak dan bercocok tanam.
Konon, sebelum desa ini dikenal sebagai Tlogomas, masyarakat menyebut wilayah tersebut sebagai Guyangan. Nama itu lahir karena air dari telaga sering digunakan untuk memandikan ternak. Setiap pagi dan sore hari, warga membawa sapi dan kambing mereka menuju telaga. Bunyi percikan air dan suara hewan ternak yang diguyur menjadi pemandangan sehari hari yang menenangkan. Aktivitas guyang ternak bukan hanya rutinitas, tetapi juga bentuk perhatian masyarakat terhadap hewan yang membantu mereka dalam pekerjaan ladang dan sawah. Dengan ternak yang bersih dan sehat, pekerjaan di bidang pertanian dapat dilakukan dengan lebih baik, sehingga hasil panen juga meningkat.
Asal usul nama Tlogomas diduga muncul pada tahun 1930 an. Saat itu masyarakat sering menemukan benda benda kecil dari emas di sekitar telaga. Temuan itu membuat kawasan tersebut dikenal sebagai Telogo Mas. Seiring waktu, penyebutan pun berubah menjadi Tlogomas. Meskipun emas bukanlah pangan, telaga yang menjadi asal nama desa ini berperan penting dalam menyediakan air untuk kebutuhan sehari hari. Air telaga tidak hanya berguna untuk minum dan mandi, tetapi juga untuk memandikan ternak serta mengairi tanaman pangan. Tanaman seperti padi dan sayuran dapat tumbuh dengan subur karena suplai air yang teratur.
Di wilayah ini terdapat beberapa dukuh kuno seperti Karuman, Guyangan, dan Pelandungan. Sebagian nama masih tercatat dalam prasasti kuno, menandakan bahwa wilayah tersebut telah lama dihuni. Dukuh Wurandungan atau Pelandungan bahkan pernah mendapatkan hak swatantra dari raja. Pada masa Mataram Kuno ketika Raja Sindok memerintah di Jawa Timur, kawasan Wurandungan dijadikan sebagai tempat suci dan diberi status otonom. Prasasti Wurandungan yang dibuat pada tahun 948 Masehi menyebutkan bahwa desa ini diberi hak untuk mengatur daerahnya sendiri.
Penetapan itu menjadi bagian penting dari sejarah Tlogomas. Prasasti tersebut kemudian dijadikan dasar bagi masyarakat untuk menentukan hari jadi desa, yaitu tanggal 23 Februari. Sejak itulah masyarakat Tlogomas mengenang wilayah mereka sebagai desa yang telah memiliki sejarah panjang, tidak hanya dalam urusan pemerintahan, tetapi juga dalam hubungan mereka dengan alam.
Sumber air menjadi inti dari kehidupan desa. Tanpa telaga, masyarakat tidak dapat merawat ternak mereka. Tanpa ternak, pekerjaan pertanian menjadi lebih berat. Air juga dibutuhkan untuk mengairi sawah dan ladang yang menjadi sumber pangan utama warga. Oleh karena itu, telaga dan sumber air di Tlogomas dianggap sebagai warisan alam yang tidak boleh diabaikan. Masyarakat menjaga kebersihannya, memastikan aliran tetap jernih, serta menggunakan air dengan bijaksana.
Kisah Tlogomas mengajarkan bahwa hubungan antara manusia, ternak, dan alam tidak dapat dipisahkan. Air menjadi penghubung yang membuat seluruh kehidupan bergerak harmonis. Melalui cerita ini, kita diingatkan bahwa kearifan lokal bukan hanya tampak dalam nama desa, tetapi juga dalam cara masyarakat memelihara alam yang menjadi sumber pangan dan kesejahteraan. Dengan menjaga sumber air, mereka menjaga masa depan. Dalam aliran telaga yang tenang, tersimpan pesan tentang pentingnya syukur, kerja sama, dan kesadaran bahwa alam adalah sahabat yang harus dirawat dengan penuh hormat.