Dusun Balongjati di Mojokerto memiliki sejarah panjang yang berakar pada keberadaan pohon jati, salah satu tanaman penting yang banyak tumbuh di wilayah tersebut. Pohon jati bukan hanya bernilai tinggi sebagai bahan bangunan, tetapi juga memiliki manfaat pangan, terutama daunnya yang sering digunakan sebagai pembungkus makanan. Daun jati memberikan aroma khas dan mampu menjaga makanan tetap hangat, sehingga menjadi bagian dari tradisi kuliner masyarakat setempat.Menurut kisah tutur yang berkembang di Mojokerto, asal-usul Dusun Balongjati diawali oleh dua wanita yang sangat berpengaruh pada masanya, yaitu Sartinah dan Manggar. Pada masa mudanya, mereka adalah sahabat karib yang sangat dekat dan selalu bekerja bersama. Ketika mereka beranjak dewasa dan mulai membuka wilayah baru, hubungan mereka mulai berubah akibat pembagian wilayah kekuasaan. Keduanya membuka hutan jati yang lebat, lalu membaginya menjadi dua: Jatisari untuk Sartinah, dan Balonglengis untuk Manggar.
Setelah pembagian wilayah dilakukan, masing-masing mendirikan sumur sebagai sumber air utama bagi calon pemukiman mereka. Namun sifat Manggar yang dikenal keras dan cenderung jahat membuatnya berambisi menguasai seluruh wilayah, termasuk bagian yang menjadi hak Sartinah. Meski begitu, Sartinah yang berhati lembut tidak ingin terjadi pertikaian dengan sahabat masa kecilnya. Untuk menghindari konflik, ia memutuskan membuat baringan, yaitu batas alami berupa barongan lebat yang memisahkan wilayah Jatisari dan Balonglengis. Kesepakatan pun dibuat: mereka hidup terpisah dan tidak saling bertemu.
Berabad-abad kemudian, muncullah seorang pemimpin besar dari Randurejo bernama R.M. Kertoaji. Ia merupakan sosok pemimpin yang tampan, berwibawa, dan dihormati masyarakat karena kebijaksanaannya. Melihat adanya perpecahan wilayah yang berlangsung begitu lama, R.M. Kertoaji berniat menciptakan perdamaian. Ia memerintahkan agar barongan lebat yang menjadi batas kedua daerah ditebang dan dibersihkan. Tujuannya adalah menyatukan kembali wilayah yang dahulu terpecah akibat konflik dua sahabat itu.
Setelah barongan dibabat habis, dua wilayah itu digabungkan dan diberi nama baru: Balongjati. Nama ini menjadi simbol persatuan sekaligus mengingatkan masyarakat akan sejarah panjang yang berawal dari hutan jati, persahabatan, perpecahan, hingga penyatuan kembali oleh seorang pemimpin bijaksana.Hingga kini, Dusun Balongjati tetap dikenal sebagai wilayah yang kaya nilai sejarah dan budaya, serta masih menyimpan cerita tentang bagaimana masyarakatnya terbentuk dari perjalanan dua tokoh wanita dan seorang pemimpin yang menginginkan kedamaian.