Dusun Luntas merupakan pusat pemerintahan Desa Somowinangun di Kabupaten Lamongan. Berdasarkan berbagai sumber dan penuturan masyarakat setempat, asal-usul Dusun Luntas memiliki kisah yang erat kaitannya dengan peran para santri Kanjeng Sunan Giri dalam menyebarkan ajaran Islam di wilayah Lamongan.
Konon, salah satu santri bernama Sumartono mendapat tugas untuk menyiarkan agama Islam di kawasan ini. Suatu hari, ketika hendak berwudu di sebuah sungai, ia terpeleset karena tempatnya licin hingga terjatuh dan meninggal dunia. Jenazahnya kemudian hanyut terbawa arus sungai, dan setiap tempat yang dilaluinya dipercaya menjadi asal nama beberapa desa di sekitarnya.
Ketika jenazah Sumartono hanyut dari tempat awal, warga sekitar yang enggan menampung jenazah mencoba mendorongnya agar hanyut, sehingga daerah itu disebut Kali Otek. Arus kemudian membawa jenazah ke arah utara, dan ketika tubuhnya menghadap ke atas, wilayah itu dinamakan Dandangan. Jenazah kembali hanyut hingga tersangkut di atas pohon kelapa, sehingga daerah tersebut disebut Delanggu.
Perjalanan jenazah berlanjut ke wilayah di mana penduduk terkejut melihat tubuh yang terbawa arus. Karena mereka termangu atau dalam bahasa Jawa disebut ketenggengen, tempat itu dinamakan Desa Melanggeng. Selanjutnya, ketika jenazah melewati daerah yang sedang membuat saluran air baru, kawasan itu dinamakan Kali Anyar. Arus terus membawa jenazah ke wilayah lain yang kemudian disebut Desa Keduran, karena jenazah didorong dengan tangkai cangkul (kedur dalam bahasa Jawa).
Perjalanan belum berhenti sampai di situ. Ketika melewati daerah yang dikenal dengan keberadaan perampok, jenazah seolah menentang arus karena dikejar oleh tiga perampok. Wilayah itu pun dinamakan Ketapangtelu. Akhirnya, jenazah tersebut terdampar di suatu tempat dan dinaikkan ke darat oleh warga. Dalam bahasa Jawa, kata “di entas” berarti diangkat atau diambil ke darat, sehingga daerah itu kemudian dinamakan Dusun Luntas.
Jenazah Sumartono kemudian dimakamkan di sebelah timur Balai Desa Somowinangun. Hingga kini, masyarakat setempat masih memegang teguh tradisi dan kepercayaan Jawa (kejawen) yang diwariskan turun-temurun. Setiap tahun setelah panen, warga Dusun Luntas mengadakan tradisi ruwatan desa atau sedekah bumi di sekitar makam leluhur. Tradisi ini dilaksanakan dengan makan bersama dan diiringi pertunjukan wayang kulit sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Kegiatan ruwat desa tersebut tetap lestari hingga saat ini. Masyarakat Dusun Luntas, termasuk mereka yang telah merantau ke daerah lain, tetap antusias untuk kembali dan berpartisipasi dalam upacara tahunan ini sebagai wujud penghormatan terhadap leluhur serta pelestarian budaya lokal.