Asal Usul Dusun Magok: Dari Mogok Mencari Ikan hingga Menjadi Desa Penuh Berkah

URL Cerital Digital: https://karangbinangun.id/putatbangah/index.php/artikel/2023/3/3/sejarah-asal-usul-desa-

Dusun Magok merupakan salah satu dusun yang berada di Desa Putatbangah, Kecamatan Karangbinangun, Kabupaten Lamongan. Secara geografis, wilayah ini dulunya terletak sekitar dua ratus meter ke arah barat dari lokasi Dusun Magok yang sekarang, tepatnya di kawasan pertambakan Mendolo. Dahulu, tempat ini bukan sekadar dusun kecil seperti sekarang, melainkan merupakan sebuah desa mandiri yang dihuni oleh beberapa keluarga. Masyarakat hidup dengan sederhana dan bergantung pada hasil tambak, sungai, serta pertanian sekitar. Di antara mereka, ada seorang tokoh yang sangat dihormati bernama Mbah Bakal, sosok yang dikenal bijaksana dan memiliki kharisma tinggi di kalangan warga.

Menurut cerita yang berkembang secara turun-temurun, asal mula nama “Magok” memiliki dua versi yang sama-sama menarik. Versi pertama menyebutkan bahwa suatu hari Mbah Bakal mengajak para warga untuk melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan. Namun, ajakan itu tidak mendapat sambutan baik. Banyak warga yang enggan ikut serta, sehingga Mbah Bakal dengan nada kecewa berkata, “Wong kok mogok ae, dijak nyambut gawe gak gelem,” yang berarti “Orang kok mogok saja, diajak bekerja tidak mau.” Sejak peristiwa itulah, tempat tersebut kemudian dinamakan “Magok,” yang berasal dari kata “mogok,” menggambarkan sifat enggan bergerak atau enggan bekerja dari warga pada masa itu.

Sementara versi kedua menyebutkan bahwa asal nama Magok berhubungan dengan peristiwa ketika Mbah Bakal sedang mencari ikan di sungai menggunakan alat tradisional yang disebut “wuwu.” Wuwu adalah perangkap ikan yang terbuat dari anyaman bambu dan biasa digunakan oleh masyarakat setempat untuk menangkap ikan di perairan dangkal. Pada suatu hari, ketika Mbah Bakal berusaha menyeberangi sungai untuk memasang wuwu, ia terpeleset dan terjebak dalam lumpur tebal. Karena lumpur itu sangat dalam, beliau sulit bergerak dan akhirnya hanya bisa pasrah. Dalam kondisi tersebut, beliau berkata bahwa dirinya “mogok,” tidak dapat melangkah lagi. Dari kejadian inilah muncul penamaan Magok, yang berasal dari kata “mogok,” sebagai kenangan akan peristiwa tersebut.

Peristiwa terjebaknya Mbah Bakal di lumpur dipercaya terjadi di sebelah selatan makam beliau yang sekarang menjadi tempat ziarah masyarakat setempat. Setelah peristiwa itu, Mbah Bakal memilih untuk menetap di sekitar lokasi ia terjebak lumpur, karena ia meyakini bahwa tempat tersebut membawa harapan dan keberkahan bagi masa depan warga. Seiring waktu, masyarakat yang sebelumnya tinggal di tempat lama mengikuti jejak Mbah Bakal dan berpindah ke lokasi baru tersebut. Dari sinilah terbentuk Dusun Magok yang kita kenal sekarang, sebagai simbol dari perubahan, ketekunan, dan semangat baru untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Selain dikenal sebagai tokoh pendiri, Mbah Bakal juga diyakini memiliki keistimewaan dan karomah yang besar. Salah satu kisah yang paling terkenal terjadi pada masa penjajahan Belanda. Ketika pasukan Belanda datang menyerang wilayah sekitar, Desa Magok yang ditempati Mbah Bakal dan para pengikutnya tidak tersentuh sama sekali oleh penjajah. Konon, desa tersebut tidak tampak seperti perkampungan dari kejauhan, melainkan tampak seperti hutan lebat atau hamparan laut, sehingga pasukan penjajah tidak menyadari keberadaan penduduk di sana. Masyarakat percaya bahwa hal itu merupakan salah satu bentuk perlindungan Allah melalui karomah Mbah Bakal.

Untuk mengenang jasa dan keteladanan beliau, sejak tahun 1992 masyarakat Dusun Magok mulai mengadakan acara Haul Mbah Bakal setiap tahun. Tradisi ini pertama kali dipelopori oleh seorang tokoh agama bernama KH Mahfudz Aziz. Dalam kegiatan haul, masyarakat berkumpul untuk berdoa bersama, membaca tahlil, serta mengenang perjuangan dan kearifan Mbah Bakal dalam membimbing warga menuju kehidupan yang lebih baik. Acara ini juga menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas keberkahan yang terus mengalir di tanah Magok.

Menurut penuturan KH Mahfudz Aziz, nama asli Mbah Bakal adalah Mbah Wiro Husen. Beliau dikenal sebagai salah satu santri dari Kanjeng Sunan Drajat, seorang wali besar yang berperan penting dalam penyebaran Islam di wilayah pesisir utara Jawa Timur. Hubungan ini menunjukkan bahwa sejarah Dusun Magok tidak terlepas dari pengaruh ajaran Islam yang kuat, terutama nilai-nilai gotong royong, kesabaran, dan keikhlasan yang menjadi ciri khas masyarakat Lamongan hingga saat ini. Dengan demikian, kisah asal-usul Magok bukan sekadar legenda lokal, melainkan juga cerminan perjalanan spiritual dan sosial masyarakat pesisir yang menjaga warisan leluhur mereka dengan penuh penghormatan.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.