Asal Usul Dusun Ngijo

URL Cerital Digital: https://www.wearemania.net/ngalam/sejarah/nama-desa-ngijo-dan-legenda-kebo-ijo

Di Kabupaten Malang terdapat sebuah wilayah yang dikenal dengan hamparan hijaunya rerumputan. Wilayah itu bernama Dusun Ngijo, sebuah tempat yang namanya berasal dari rumput gelagah atau Saccharum spontaneum yang tumbuh subur di daerah tersebut. Rumput gelagah bukan hanya bagian dari pemandangan alam, tetapi juga memiliki manfaat penting bagi masyarakat. Tunas mudanya yang diparut dan dicampur air digunakan sebagai obat tetes mata, sementara pucuk atau umbutnya dapat direbus dan dijadikan sayuran. Karena itulah rumput ini dianggap sebagai sumber pangan sekaligus obat, menjadikannya bagian dari kehidupan sehari hari warga Ngijo.

Kisah asal usul dusun ini berawal dari legenda pelarian Kebo Ijo, tokoh yang sering muncul dalam cerita rakyat seputar Singosari. Setelah dituduh membunuh Akuwu Tunggul Ametung, Kebo Ijo melarikan diri dari istana bersama tiga rekannya. Pasukan Singosari terus mengejar mereka, melewati berbagai tempat termasuk Kedawung dan wilayah timur yang dipenuhi pepohonan besar.

Namun pengejaran itu tidak mudah. Pasukan Singosari berkali kali kehilangan jejak. Ketika akhirnya kedua pihak bertemu, terjadilah pertempuran sengit. Dalam pertempuran itu, Kebo Ijo dan ketiga rekannya menunjukkan kesaktian yang jauh melebihi pasukan Singosari. Prajurit kerajaan mengalami kekalahan dan terpaksa mundur untuk menyusun strategi baru di pusat kerajaan.

Setelah pertempuran itu, Kebo Ijo mencari tempat persembunyian yang aman. Ia memilih sebuah daerah yang memiliki hamparan padang rumput hijau luas. Rumput gelagah tumbuh lebat di sana, membuat kawasan itu tampak seperti permadani hijau yang membentang jauh. Tempat itu disebut Glagah Ijo. Bagi Kebo Ijo, wilayah tersebut sangat cocok untuk bersembunyi. Udara di sana terasa sejuk meski matahari terik, dan saat cuaca dingin sekalipun, tempat itu tetap nyaman. Lingkungannya yang teduh menjadikannya lokasi ideal untuk beristirahat dan menyusun strategi menghadapi kemungkinan serangan balasan dari Singosari.

Keindahan dan keteduhan padang glagah itulah yang kemudian melahirkan nama Ngijo. Kata ini menggambarkan warna hijau yang mendominasi lanskap dan menjadi ciri khas dusun tersebut. Seiring waktu, masyarakat yang tinggal di daerah itu memanfaatkan rumput gelagah tidak hanya sebagai bagian dari alam, tetapi juga sebagai sumber pangan dan obat. Pucuk gelagah yang direbus menjadi sayur memberi cita rasa alami yang segar. Air parutan tunas gelagah yang digunakan sebagai obat mata menjadi bagian penting dalam pengobatan tradisional. Penggunaan rumput gelagah menunjukkan bagaimana alam menyediakan banyak kebutuhan manusia bila dirawat dengan baik.

Dusun Ngijo yang kini menjadi bagian dari Desa Ngijo di Kabupaten Malang tetap mempertahankan hubungan erat dengan alam. Rumput gelagah yang dahulu menjadi ciri utama wilayah ini masih tumbuh di beberapa tempat, mengingatkan warga akan identitas dusun mereka. Masyarakat menjaga keseimbangan lingkungan, memastikan tanaman liar yang bermanfaat ini tidak punah akibat pembangunan atau perubahan lahan.

Kisah asal usul Dusun Ngijo mengajarkan bahwa alam sering kali menjadi guru sekaligus pelindung. Rumput gelagah yang sederhana memberi manfaat besar, menjadi pangan, obat, serta penanda identitas wilayah. Cerita Kebo Ijo yang bersembunyi di padang rumput itu memperlihatkan bagaimana lingkungan yang tenang dapat membawa keselamatan. Dari legenda ini, kita belajar bahwa kearifan lokal tercermin dalam cara masyarakat memanfaatkan alam dengan hati hati, serta menghargai setiap tumbuhan yang tumbuh di tanah mereka. Menjaga alam berarti menjaga kehidupan, dan dari Ngijo kita memahami bahwa kehijauan adalah lambang harapan dan keberlanjutan.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.