Asal Usul Dusun Putatrejo: Warisan Pohon Putat dan Jejak Buyut Ibrahim

URL Cerital Digital: https://karangbinangun.id/putatbangah/index.php/artikel/2023/3/3/sejarah-asal-usul-desa-putatbangah#:~:text=PUTATREJO%20adalah%20salah%20satu%20dusun%20di%20Desa,karena%20disana%20itu%20banyak%20dijumpai%20tumbuh%20POHON

Dusun Putatrejo merupakan salah satu dusun yang berada di wilayah Desa Putatbangah, Kecamatan Karangbinangun, Kabupaten Lamongan. Dahulu, tempat ini dikenal dengan nama “Putatsapi,” sebuah desa kecil yang letaknya sekitar satu kilometer ke arah selatan dari Dusun Putatrejo yang sekarang. Wilayah lama itu berada di sekitar lokasi yang kini menjadi SDN Putatbangah. Pada masa lampau, kawasan tersebut dikenal subur dan rindang karena banyak ditumbuhi pohon putat (Barringtonia spp.), sejenis pohon yang tumbuh di daerah tropis dan sering ditemukan di tepi sungai atau rawa.

Pohon putat memiliki banyak manfaat bagi kehidupan masyarakat. Selain kayunya kuat dan tahan air, bagian pucuk daun mudanya biasa dimanfaatkan sebagai lalapan atau sayur oleh warga sekitar. Buahnya bisa dimasak dan dimakan setelah direbus, sementara bijinya dapat diolah menjadi semacam kacang. Oleh karena pohon ini banyak tumbuh di sekitar desa dan sering digunakan sebagai tempat menambatkan sapi yang sedang digembalakan, maka wilayah tersebut dinamakan “Putatsapi,” gabungan dari kata “putat” dan “sapi.” Nama itu menjadi penanda hubungan erat antara alam, manusia, dan hewan ternak dalam kehidupan sehari-hari masyarakat desa.

Namun seiring waktu, para sesepuh desa menyadari bahwa wilayah Putatsapi yang lama tidak memungkinkan untuk berkembang secara geografis. Lahan di sana dianggap kurang mendukung untuk pertanian dan permukiman. Maka, pada tahun 1961, tokoh-tokoh masyarakat bersepakat untuk memindahkan permukiman ke arah utara sejauh satu kilometer. Mereka berharap, dengan berpindah ke tempat baru, kehidupan masyarakat akan lebih sejahtera dan mudah berkembang. Perpindahan itu bukan hanya fisik, tetapi juga simbolik, mencerminkan tekad untuk memulai kehidupan yang lebih baik.

Tiga tahun kemudian, pada tahun 1964, nama Putatsapi resmi diganti menjadi “Putatrejo.” Pergantian nama ini bukan sekadar perubahan sebutan, tetapi juga doa dan harapan. Para sesepuh menginginkan agar Putatrejo menjadi desa yang “Gemah Ripah Loh Jinawi Toto Tentrem Raharjo,” yakni desa yang makmur, damai, dan sejahtera. Semangat perubahan itu membawa masyarakat Putatrejo menjadi lebih terbuka terhadap pembaruan, namun tetap memelihara nilai-nilai tradisional yang diwariskan oleh leluhur mereka.

Menurut penuturan Gus Muhammad Ali Wafa’ Abdurrohman dari Malang, tokoh yang pertama kali membuka atau “membabat” wilayah Putatsapi adalah Buyut Ibrahim, seorang pendekar besar asal Madiun. Ia dikenal sebagai pemimpin sebuah perguruan silat ternama pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Dalam perjalanan hidupnya, Buyut Ibrahim memilih meninggalkan dunia persilatan dan mengembara ke wilayah Lamongan untuk menenangkan diri serta menyembunyikan jati dirinya dari para pendekar lain. Di tanah inilah ia memulai kehidupan baru, bersama sahabatnya Mbah Jasman dan istrinya, Mbah Zaenab.

Buyut Ibrahim dikenal sebagai sosok yang bijak dan memiliki kekuatan spiritual tinggi. Ia membabat hutan belantara, menjadikannya tempat tinggal, dan kemudian membuka lahan untuk bercocok tanam. Dari sinilah cikal bakal Desa Putatsapi terbentuk. Makam Buyut Ibrahim ditemukan kembali oleh Gus Ali pada bulan Ramadan tahun 1436 Hijriah di area yang dikenal sebagai “Makam Jabang Bayi.” Makam tersebut kemudian dipindahkan ke pemakaman umum yang berada di sebelah utara Dusun Putatrejo agar lebih mudah dikunjungi oleh masyarakat yang ingin berziarah.

Sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan perjuangan Buyut Ibrahim, warga setempat membangun sebuah pesarehan di sekitar makamnya. Tradisi haul pertama untuk mengenang beliau diselenggarakan pada tanggal 5 Rabiul Awal 1436 Hijriah, bertepatan dengan tahun 2014 Masehi. Sejak saat itu, setiap tahun masyarakat Putatrejo berkumpul untuk membaca doa dan mengenang tokoh yang telah membuka jalan bagi berdirinya dusun mereka. Acara haul ini menjadi momen kebersamaan yang mengingatkan masyarakat akan pentingnya menghargai sejarah dan menjaga warisan leluhur yang penuh makna.

Kisah asal-usul Dusun Putatrejo bukan hanya tentang sejarah pemukiman, tetapi juga tentang hubungan erat antara manusia, alam, dan nilai spiritual. Pohon putat yang menjadi asal nama dusun menyimbolkan kehidupan yang sederhana namun bermanfaat, seperti halnya masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam. Dari kisah ini, kita belajar bahwa setiap nama tempat menyimpan cerita panjang tentang perjuangan, kebijaksanaan, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.