Dusun Sumberjo merupakan salah satu wilayah di Desa Somowinangun, Kecamatan Karangbinangun, Kabupaten Lamongan, yang menyimpan kisah sejarah unik dan sarat nilai budaya. Sebelum dikenal dengan nama Sumberjo, dusun ini dahulu bernama Cumpleng. Nama Cumpleng sendiri berasal dari kata “tumpeng,” yang mengandung makna selametan atau bentuk syukur kepada Tuhan atas peristiwa penting yang terjadi di masa lampau.
Kisah bermula ketika di Dusun Luntas, yang masih satu desa dengan Sumberjo, dimakamkan seorang tokoh suci yang dikenal memiliki derajat kewalian. Tokoh ini dipercaya sebagai salah satu pengikut ajaran Sunan Giri yang turut menyebarkan agama Islam di wilayah Lamongan. Setelah prosesi pemakaman selesai, masyarakat yang tinggal di sebelah barat Dusun Luntas mengadakan selametan dengan menyajikan tumpeng sebagai bentuk penghormatan kepada almarhum.
Selametan tersebut tidak hanya menjadi peristiwa adat biasa, tetapi juga menjadi awal perubahan besar dalam kehidupan masyarakat setempat. Warga yang sebelumnya masih memeluk kepercayaan lama mulai tertarik mengenal ajaran Islam karena kagum pada kewalian dan keteladanan sosok yang dimakamkan di Dusun Luntas itu. Akhirnya, penduduk Cumpleng secara serentak memeluk agama Islam dan menjadikannya sebagai pedoman hidup mereka.
Nama Cumpleng kemudian melekat sebagai sebutan bagi wilayah tersebut karena peristiwa selametan tumpeng itu dianggap sakral dan bersejarah. Namun, seiring berjalannya waktu, nama Cumpleng dirasa kurang sesuai dan terdengar kurang baik di telinga masyarakat modern. Oleh sebab itu, pada tahun 1980 para tokoh masyarakat dan pemerintah desa bermusyawarah untuk mengganti nama dusun.
Hasil musyawarah itu memutuskan bahwa nama Cumpleng diganti menjadi Sumberjo. Pemilihan nama ini bukan tanpa makna. Kata “Sumberjo” berasal dari dua unsur, yakni “sumber” yang berarti mata air atau asal kehidupan, dan “jo” yang bermakna kemakmuran. Harapan warga saat itu adalah agar dusun mereka menjadi sumber kesejahteraan, tempat kehidupan yang subur dan penuh berkah bagi seluruh penduduknya.
Setelah perubahan nama tersebut, masyarakat meyakini bahwa Dusun Sumberjo membawa berkah tersendiri. Tanahnya menjadi lebih produktif, hasil pertaniannya meningkat, dan kehidupan sosial masyarakatnya semakin harmonis. Semangat gotong royong, persaudaraan, dan keislaman terus dijaga oleh warga setempat sebagai warisan dari para leluhur mereka.
Hingga saat ini, Dusun Sumberjo dikenal sebagai dusun yang maju dan makmur di wilayah Desa Somowinangun. Tradisi selametan dan syukuran pasca panen tetap dilestarikan sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah masa lalu. Perubahan nama dari Cumpleng menjadi Sumberjo bukan sekadar pergantian sebutan, melainkan simbol perjalanan spiritual dan sosial masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik, sejahtera, dan penuh berkah.