
Pada masa ketika penjajahan Belanda masih mencengkeram tanah Jawa, suasana di wilayah Blitar dipenuhi oleh rasa waswas. Kabar beredar dari mulut ke mulut bahwa pasukan Belanda akan datang menyerbu desa-desa di sekitar sana untuk mencari para pemberontak dan mengambil hasil bumi rakyat. Di antara deretan desa yang hidup tenteram, terdapat sebuah kampung kecil yang dikelilingi oleh hutan jati lebat dan tanah yang subur. Di sanalah kisah ini bermula.
Pada suatu sore yang mendung, para tokoh desa berkumpul di balai rumah Pak Sutrisno, seorang petani tua yang disegani oleh warga karena kebijaksanaannya. Hadir pula tiga sahabatnya, Paijo, Katiman, dan Samijan, serta puluhan warga lain. Wajah-wajah mereka tampak tegang, karena kabar bahwa tentara Belanda sedang bergerak ke arah selatan telah membuat jantung mereka berdegup keras. Mereka tahu, bila pasukan itu benar-benar datang, hasil panen, ternak, bahkan nyawa mereka bisa melayang.
“Lantas apa yang harus kita lakukan?” tanya Paijo, memecah keheningan. “Kita tak punya senjata, tak punya bala bantuan. Kalau mereka datang, kita hanya bisa pasrah.”
Namun sebelum putus asa semakin menguasai hati mereka, seorang pemuda asing muncul di tengah pertemuan. Tubuhnya tegap, wajahnya keras namun teduh, dan matanya memancarkan keteguhan. Ia memperkenalkan diri sebagai Bima, seorang pengelana dari Jawa Tengah yang sedang mencari tempat singgah. Mendengar percakapan warga, Bima pun maju dan berkata dengan suara mantap, “Jika kalian ingin bertahan, jangan melawan dengan senjata. Gunakanlah apa yang kalian punya, gunakanlah pohon-pohon jati yang tumbuh di hutan kalian.”
Semua orang tertegun. “Pohon jati?” tanya Katiman bingung. “Bagaimana bisa kayu menyelamatkan kita dari tentara bersenjata?”
Bima tersenyum tipis. “Tebanglah beberapa batang jati besar di tepi jalan menuju desa kalian. Letakkan batang-batang itu melintang di jalan hingga menutup seluruh jalur masuk. Belanda membawa pasukan dengan kereta dan kuda, mereka tidak akan bisa melewati halangan besar itu tanpa menebang dan membersihkannya. Dengan begitu, kita punya waktu untuk melarikan diri atau menyembunyikan hasil bumi kita.”
Awalnya warga menganggap ide itu gila. Bagaimana bisa sebatang pohon menghentikan pasukan yang kuat dan bersenjata? Namun dalam keadaan putus asa, mereka tak punya pilihan lain. Setelah berunding semalam suntuk, akhirnya mereka setuju mencoba usul si pengelana.
Keesokan paginya, seluruh warga turun ke hutan dengan kapak dan parang. Suara “tak! tak! tak!” dari pukulan kapak menggema di antara pepohonan jati yang menjulang tinggi. Keringat mengalir di wajah mereka, namun semangat untuk melindungi desa membuat tubuh-tubuh lelah itu terus bekerja. Satu per satu pohon jati tumbang, menimbulkan suara bergemuruh yang membuat burung-burung beterbangan dari dahan.
Setelah batang-batang jati besar terkumpul, mereka menyeretnya ke jalan utama dan menaruhnya melintang di jalur masuk desa. Mereka menumpuknya hingga menutup seluruh jalan, menciptakan penghalang raksasa yang tak mudah dilalui. Di sela-sela batang jati itu, mereka menanam tanaman berdaun lebar seperti pisang dan pandan, seolah-olah jalan itu hanyalah bagian dari hutan biasa.
Beberapa hari kemudian, pasukan Belanda benar-benar datang. Dari kejauhan, derap kuda dan bunyi roda gerobak terdengar. Namun ketika mereka tiba di jalan menuju desa, jalur itu sudah tertutup rapat oleh pohon-pohon jati besar yang melintang seperti dinding alam. Para serdadu kebingungan, sebab untuk menyingkirkan pohon-pohon itu, mereka membutuhkan waktu berjam-jam, bahkan berhari-hari. Sementara itu, para warga telah bersembunyi di perbukitan dan memindahkan seluruh bahan pangan ke tempat aman.
Ketika Belanda akhirnya mundur karena merasa percuma melanjutkan perjalanan, warga pun bersorak gembira. Mereka tahu, bukan hanya keberuntungan yang menyelamatkan mereka, tetapi juga kecerdikan dan keberanian untuk memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar mereka.
Sebagai tanda syukur, mereka menggelar selamatan sederhana. Di bawah pohon jati yang tersisa, mereka duduk bersama menikmati nasi bungkus yang dilapisi daun jati muda. Sejak saat itu, daun jati menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka. Tak hanya digunakan untuk membungkus makanan, tetapi juga dimanfaatkan sebagai pewarna alami untuk nasi dan jamu tradisional, serta obat luka luar yang dipercaya menenangkan kulit.
Karena peristiwa itulah, daerah tersebut diberi nama Jatimalang, dari kata jati dan malang, yang berarti “pohon jati yang melintang.” Nama itu menjadi pengingat bagi generasi setelahnya bahwa kebersamaan dan kearifan lokal dapat menjadi pelindung paling kuat, bahkan di masa-masa penuh ancaman.
Hingga kini, warga Jatimalang masih menjaga tradisi itu. Mereka menanam pohon jati sebagai sumber kayu, obat, dan bahan pangan alami. Daun jati masih digunakan sebagai pembungkus nasi atau wadah makanan tradisional. Warna hijau kecokelatan yang dihasilkannya menambah aroma khas dan cita rasa yang tak bisa digantikan oleh pembungkus modern.
Dari kisah Bima dan para petani Jatimalang, kita belajar bahwa kekuatan tidak selalu datang dari senjata atau kekuasaan. Kadang, alam memberi perlindungan melalui pohon, tanah, dan dedaunan yang tumbuh di sekitar kita, asalkan manusia tahu cara menghargainya.