Di Surabaya, ada sebuah kawasan yang dikenal dengan nama Kebon Rojo. Nama ini menyimpan cerita lama tentang sebuah kebun luas yang dahulu menjadi tempat berburu khusus bagi sang Adipati. Konon, apabila sang Adipati tidak sempat pergi jauh ke hutan rimba, ia akan menuju kebun ini untuk melepas hasrat berburu.
Berburu di masa lalu bukan hanya sekadar hiburan, melainkan juga cara penting untuk memperoleh bahan makanan. Hasil buruan seperti kijang, rusa, atau burung liar kemudian diolah menjadi masakan yang disajikan dalam jamuan istana. Dengan demikian, Kebon Rojo memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan pangan sekaligus menjadi simbol kebesaran seorang pemimpin daerah.
Seiring berjalannya waktu, fungsi kebun itu berubah. Hutan-hutan yang dulunya rimbun kini berganti dengan pemukiman dan jalan raya, tetapi nama Kebon Rojo tetap hidup dalam ingatan masyarakat. Ia menjadi penanda bahwa wilayah ini pernah menjadi tempat para bangsawan menikmati hasil bumi dan hewan buruan yang menjadi bagian dari tradisi kuliner Jawa.
Kini, meski tidak lagi digunakan untuk berburu, nama Kebon Rojo tetap abadi. Ia mengingatkan kita bahwa praktik memperoleh pangan di masa lalu sangat erat kaitannya dengan hubungan manusia dan alam, di mana berburu menjadi bagian dari keterampilan hidup sekaligus budaya yang diwariskan.