Asal Usul Kecamatan Wiyung

URL Cerital Digital: https://www.detik.com/jatim/budaya/d-7308426/cerita-wiyung-mendapat-nama-dari-kasih-tak-sampai-mbah-jati-ke-mbah-melati

Di barat Kota Surabaya, terdapat sebuah kecamatan bernama Wiyung. Nama ini bukan sekadar sebutan administratif, melainkan menyimpan kisah tutur yang penuh makna. Berdasarkan cerita yang tercatat dalam Surabaya in the Book: Potret Sisikmelik Kota Surabaya (2009) karya M. Anis Fathoni, nama Wiyung berasal dari sebuah kisah kasih tak sampai antara Mbah Jati dan Mbah Melati.

Alkisah, pada zaman dahulu Wiyung hanyalah sebuah desa tanpa nama. Desa ini berupa daerah rawa-rawa yang luas. Meski terlihat sederhana, rawa itu menyimpan kekayaan alam yang sangat berarti bagi kehidupan masyarakat. Dari rawa-rawa, warga memperoleh ikan dan tanaman air yang menjadi sumber pangan. Airnya pun dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari, mulai dari memasak, bercocok tanam, hingga pengairan sawah. Dengan cara itu, rawa bukan hanya bagian dari alam, melainkan nadi kehidupan yang menghidupi seluruh desa.

Di desa itu hiduplah seorang pemuda bernama Ki Sukmo Jati, atau dikenal dengan sebutan Mbah Jati. Ia rajin bekerja dan sederhana dalam tingkah laku. Mbah Jati menyimpan rasa cinta mendalam pada seorang gadis jelita bernama Dewi Sekar Arum, yang akrab disapa Mbah Melati. Sayangnya, kisah cinta mereka tidak berjalan mulus. Ada pihak ketiga bernama Lempung dijuluki demikian karena berarti tanah becek yang pekat yang menghalangi mereka bersatu.

Cinta yang tulus itu akhirnya kandas. Dewi Sekar Arum jatuh sakit dan meninggal dunia sebelum sempat menyatukan cinta dengan Mbah Jati. Kepergian Dewi membuat Mbah Jati larut dalam duka. Dalam kesedihannya, ia memberi nama desa itu Wiyung. Nama tersebut berasal dari gabungan kata Dewi dan Wuyung. Dewi diambil dari nama pujaan hatinya, sementara Wuyung berarti “yang dicintai”. Dengan begitu, Wiyung berarti Dewi yang dicintai sebuah penanda cinta abadi yang tak pernah tergapai.

Selepas menamai desa itu, Mbah Jati diceritakan meninggal dalam kesedihan mendalam. Namun, warisannya tetap hidup. Nama Wiyung terus melekat hingga kini, bukan hanya sebagai pengingat cinta yang kandas, tetapi juga sebagai penanda kawasan rawa-rawa yang dulu menjadi sumber pangan dan air bagi masyarakat sekitar.

Kisah Wiyung mengajarkan bahwa sebuah nama tidak lahir begitu saja. Ia bisa berasal dari perasaan, pengorbanan, dan kehidupan sehari-hari yang bersatu dengan alam. Dari rawa yang menjadi sumber kehidupan hingga cinta yang tak tersampaikan, Wiyung menyimpan kisah yang membuatnya tak pernah dilupakan.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.