Asal Usul Kelurahan Banjaran

URL Cerital Digital: https://bacaini.id/10-nama-desa-di-kediri-yang-diambil-dari-tumbuhan/

Di tepian dataran lembah yang dikelilingi perbukitan Kediri, terbentang hamparan hijau yang menenangkan mata. Tempat itu kini dikenal sebagai Kelurahan Banjaran. Namun, jauh sebelum pemukiman berdiri, kawasan ini hanyalah padang luas yang ditumbuhi sejenis rumput liar yang tumbuh subur setiap musim hujan. Rumput itu disebut suket banjaran oleh penduduk sekitar, atau dalam bahasa ilmiahnya dikenal sebagai Calamagrostis australis. Dari sinilah nama Banjaran berasal, nama yang mengikat manusia dengan alam yang telah lebih dulu hadir.

Menurut cerita lama yang beredar di kalangan sesepuh, pada masa silam kehidupan masyarakat di wilayah itu masih sangat bergantung pada alam. Mereka memelihara berbagai ternak seperti kambing, sapi, kuda, dan kerbau. Saat matahari terbit dan embun masih menempel di ujung daun, para penggembala menggiring ternaknya menuju padang rumput di kaki bukit, tempat suket banjaran tumbuh lebat. Rumput ini menjadi pakan utama ternak mereka karena daunnya lembut dan tahan lama. Hewan-hewan yang memakan rumput itu tumbuh sehat dan kuat, sehingga suket banjaran dianggap membawa berkah bagi kehidupan masyarakat.

Selain sebagai pakan ternak, sebagian warga percaya bahwa akar suket banjaran memiliki khasiat obat. Meski belum ada penelitian yang pasti, cerita turun-temurun menyebutkan bahwa akar tersebut dapat digunakan untuk mengobati penyakit dalam atau sebagai ramuan penyejuk tubuh. Para dukun desa sering merebus akarnya dalam air bersih lalu mencampurnya dengan madu atau gula merah sebelum diminum oleh orang yang sedang sakit. Keyakinan terhadap kekuatan alam ini menjadi bagian penting dari budaya masyarakat Banjaran, yang selalu berusaha menjaga keseimbangan antara memanfaatkan dan melestarikan lingkungan sekitar.

Dalam catatan lama, disebutkan bahwa ada dua jenis rumput banjaran yang tumbuh di tanah Jawa. Jenis pertama adalah Calamagrostis australis, yang sering disebut juga pari apa atau suket kroncong, dengan tinggi antara 15 hingga 80 sentimeter. Jenis kedua adalah Festuca nubigena, yang tumbuh lebih kuat dan mencapai tinggi 75 sentimeter. Kedua jenis ini biasanya hidup di dataran tinggi, terutama di sekitar pegunungan yang berhawa sejuk. Di Banjaran, rumput-rumput tersebut tumbuh secara alami di sepanjang aliran sungai dan di lereng tanah subur yang kaya unsur hara.

Hari demi hari, hamparan suket banjaran itu tidak hanya menjadi sumber kehidupan bagi ternak, tetapi juga menjadi bagian dari lanskap yang membentuk jati diri masyarakat setempat. Mereka melihatnya bukan sekadar tanaman liar, melainkan sahabat yang menyediakan kehidupan, sebagaimana tanah yang memberi makan dan air yang memberi minum. Hingga kini, nama Banjaran menjadi pengingat bahwa kehidupan yang sejahtera selalu berawal dari keselarasan antara manusia dan alam.

Kisah asal-usul Kelurahan Banjaran mengajarkan nilai kearifan lokal tentang pentingnya memelihara alam dengan penuh rasa hormat. Suket banjaran yang tampak sederhana justru menjadi simbol kesabaran dan ketekunan, tumbuh di mana pun asal ada tanah dan cahaya. Seperti rumput yang tak pernah berhenti tumbuh meski terinjak, begitu pula manusia yang terus berjuang untuk hidup seimbang bersama alamnya. Dari sini kita belajar bahwa keberlanjutan pangan dan kehidupan dimulai dari kesadaran untuk menjaga bumi yang menumbuhkan segalanya.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.