Asal Usul Nama Banjarejo

URL Cerital Digital: https://www.wearemania.net/ngalam/sejarah/kisah-sejarah-dusun-dusun-desa-banjarejo-pakis

Di sebuah dataran subur di Kabupaten Malang terdapat desa yang namanya lahir dari tatanan permukiman lama serta hubungan manusia dengan aliran sungai yang menjadi sumber kehidupan. Desa itu bernama Banjarejo. Nama ini terbentuk dari dua kata, yaitu banjar yang berarti deretan atau jajaran kampung, dan rejo yang berarti ramai atau makmur. Sejak dahulu, wilayah ini terdiri dari kampung kampung yang berjajar dari timur hingga barat, membentuk barisan permukiman yang rapi dan terhubung oleh aktivitas pertanian serta kehidupan di sepanjang aliran air.

Pada masa lampau, tiga kampung utama membentuk dasar wilayah Banjarejo. Di sebelah timur terdapat Banjarsari, di tengah berdiri Purworejo, dan di sebelah barat terdapat Sindurejo. Ketiganya membentuk deretan kampung yang saling bergantung satu sama lain dalam mengolah lahan, merawat ternak, dan mengelola sumber air. Sungai Amprong atau yang oleh warga disebut Sungai Ngamprong, menjadi aliran penting yang menyatukan kehidupan masyarakat di kampung kampung itu. Selain Sungai Amprong, terdapat pula Sungai Lajing yang menjadi batas alami sekaligus sumber air bagi kegiatan pertanian dan kebutuhan pangan.

Sungai Amprong mengalir membelah wilayah desa, menciptakan dua bagian utama yang kini dikenal sebagai Dusun Krajan dan Dusun Ngamprong. Dusun Krajan mencakup tiga kampung lama yaitu Banjarsari, Purworejo, dan Sindurejo. Sementara Dusun Ngamprong terdiri dari dua wilayah yaitu Ngamprong Lor dan Ngamprong Kidul yang dipisahkan oleh aliran Sungai Amprong. Sungai Lajing di sisi lain juga berperan sebagai pembatas yang alami antara kedua dusun. Aliran sungai sungai ini menjadi sumber air yang sangat penting. Warga menggunakannya untuk minum, memasak, mencuci, dan terutama untuk mengairi sawah mereka.

Karena wilayah ini merupakan daerah agraris, ketersediaan air menjadi faktor utama yang menentukan kesejahteraan masyarakat. Sawah sawah di sepanjang aliran sungai ditanami padi, yang menjadi sumber pangan pokok, serta berbagai tanaman lain seperti sayur dan tanaman palawija. Air dari Sungai Amprong dan Sungai Lajing mengalir melalui saluran irigasi sederhana buatan warga, memastikan bahwa seluruh lahan tetap subur dan hasil panen bisa melimpah. Masyarakat menggantungkan hidup pada air ini, menjadikannya pusat aktivitas dan simbol kemakmuran.

Sungai juga menjadi tempat warga berkumpul, bercengkerama, serta melaksanakan tradisi tradisi lama seperti bersih desa atau ritual syukuran atas hasil panen. Dalam kehidupan sehari hari, keberadaan sungai memberi ritme tersendiri. Suara air yang mengalir menjadi pengingat bahwa alam selalu memberikan kehidupan bagi mereka yang menjaganya.

Nama Banjarejo kemudian diangkat sebagai identitas desa karena mencerminkan kondisi wilayah serta harapan masyarakat. Banjar menggambarkan jajaran kampung yang terhubung oleh persaudaraan dan kerja keras. Rejo menggambarkan harapan akan kemakmuran, ketentraman, dan keberkahan. Dua kata itu menyatu menjadi nama yang terus hidup hingga sekarang.

Kisah asal usul Banjarejo mengajarkan bahwa kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari alam yang mengelilinginya. Sungai sungai yang mengalir bukan hanya sumber air minum, tetapi juga sumber pangan, kekuatan ekonomi, dan harmoni sosial. Masyarakat Banjarejo menjaga aliran air agar tetap bersih dan lestari, karena mereka memahami bahwa kerusakan alam akan berpengaruh langsung pada kehidupan mereka. Cerita ini menjadi pengingat bahwa kearifan lokal tidak hanya tercermin dalam nama desa, tetapi juga dalam cara masyarakat memelihara alam sebagai bagian dari identitas dan masa depan mereka.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.