Asal Usul Nama Kedungwaras

URL Cerital Digital: https://www.kedungwaras-matoh.com/sejarah-desa/

Pada masa yang sangat lama, sekitar tahun 1500, tanah Lamongan masih diselimuti hutan lebat dan sungai-sungai yang mengalir jernih. Di wilayah itu pernah terjadi perebutan kekuasaan antara dua tokoh besar, Ratu Rajekwesi dan Singodipo. Keduanya memiliki pasukan yang tangguh dan sama-sama bertekad mempertahankan kehormatan serta wilayah kekuasaannya.

Pasukan Ratu Rajekwesi berkemah di daerah Mambang, tidak jauh dari Landeyan di bagian barat, sedangkan pasukan Singodipo mendirikan perkemahan di wilayah Jetis di bagian timur. Di antara kedua tempat itu terbentang padang luas yang menjadi saksi pertempuran hebat antara dua kekuatan besar. Tombak-tombak dan senjata mereka beradu, meninggalkan tangkai-tangkai besi yang kemudian tertancap dalam di tanah. Setelah pertempuran usai, daerah itu menjadi tempat peristirahatan pasukan yang selamat, dan lama-kelamaan dikenal dengan nama Landeyan, berasal dari kata “lenden” yang berarti tempat singgah atau tempat beristirahat.

Beberapa tahun kemudian, di sebelah barat Landeyan terdapat sebuah dataran rendah yang luas. Di sana mengalir sungai yang dalam, dengan airnya yang tenang dan jernih. Penduduk Landeyan sering pergi ke sana untuk mencari ikan, mandi, atau mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari. Karena jarak yang cukup jauh, sebagian warga memutuskan untuk mendirikan rumah di sekitar sungai tersebut. Seiring berjalannya waktu, kawasan itu berkembang menjadi permukiman kecil yang disebut dengan nama Kedung. Dalam bahasa Jawa, kata “kedung” berarti genangan air yang dalam atau sungai yang berarus pelan.

Air dari Kedung menjadi sumber kehidupan bagi penduduk sekitar. Dari sanalah mereka menimba air untuk diminum, memasak, mencuci, dan menyiram tanaman di ladang. Anak-anak bermain di tepi sungai setiap sore, sementara para ibu mencuci beras atau pakaian di batu-batu besar yang menjorok ke air. Sungai itu menjadi pusat kehidupan masyarakat, dan penduduk percaya bahwa selama airnya tetap mengalir, mereka akan selalu diberi kesehatan dan rezeki.

Namun, sungai di Kedung juga membawa tantangan. Setiap kali hujan deras datang dari arah selatan, air dari hulu turun deras hingga menyebabkan banjir di permukiman. Meski demikian, masyarakat tidak meninggalkan tempat itu. Mereka tetap bertahan dan memanfaatkan air yang melimpah sebagai anugerah. Barulah pada tahun 2004, setelah sungai di bagian barat diperlebar, banjir mulai berkurang. Sejak saat itu, kawasan Kedung semakin ramai dan subur.

Di masa selanjutnya, datang seorang pendatang bernama Raden Ranjung yang menetap di sebelah selatan Landeyan. Ia dikenal sebagai sosok bijak dan berpengaruh. Wilayah tempatnya tinggal kemudian dikenal sebagai Dusun Ranjung. Pada masa pemerintahan Belanda, ketiga dusun, yaitu Landeyan, Kedung, dan Ranjung, masing-masing memiliki kepala petinggi sendiri. Namun pada tahun 1915, ketiganya digabung menjadi satu desa yang diberi nama Kedungwaras.

Nama Kedungwaras memiliki makna yang dalam. Kata “kedung” berasal dari sungai yang dalam dan menjadi sumber air bagi kehidupan masyarakat, sedangkan “waras” berarti sehat dan kuat. Maka Kedungwaras dapat dimaknai sebagai “kedung yang membawa kesehatan dan kehidupan.” Nama ini tidak hanya menggambarkan keadaan alamnya, tetapi juga semangat warganya yang sehat, tangguh, dan penuh rasa syukur atas air yang selalu menghidupi mereka.

Hingga kini, Desa Kedungwaras tetap dikenal sebagai desa yang subur dan makmur. Sungai yang dahulu menjadi saksi sejarah kini mengalir tenang di antara sawah dan kebun penduduk. Airnya masih digunakan untuk mengairi padi, menyuburkan tanah, dan menjadi sumber kehidupan bagi semua makhluk di sekitarnya. Di setiap suara gemericik air, masyarakat seolah mendengar pesan leluhur mereka: bahwa kehidupan tidak akan bertahan tanpa air, dan air tidak akan bermakna tanpa manusia yang menjaganya.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.