Di tepian Kota Surabaya, pada masa lampau, hidup cerita rakyat yang lekat dengan alam, terutama dengan pohon jambu yang tumbuh subur di hutan. Cerita ini bermula dari masa ketika Surabaya menjadi pusat pertarungan dan perebutan pengaruh antara kerajaan besar.
Alkisah, ada seorang utusan dari Kerajaan Mataram bernama Sawonggaling. Ia adalah pendekar sakti yang menguasai ilmu suro dari Kraton Surakarta. Sawonggaling datang dengan satu misi, yaitu menuntut agar Surabaya tunduk di bawah kekuasaan Mataram. Namun Jayengrono, pemimpin Surabaya kala itu, menolak. Penolakan ini berujung pada tantangan adu kesaktian.
Pertarungan besar pun digelar di Kali Mas, pada malam Jumat Legi. Selama enam hari enam malam, kedua tokoh bertarung sengit, tanpa ada yang menang atau kalah. Pada hari ketujuh, keduanya akhirnya gugur karena kehabisan tenaga. Jasad mereka diarak dan digantungkan untuk disaksikan masyarakat. Pertarungan dahsyat itu meninggalkan jejak pada nama-nama tempat di Surabaya. Kali Mas konon menjadi merah, sisik tubuh para kesatria beterbangan hingga daerah itu dikenal sebagai Semut dan Jembatan Merah. Sementara tempat menggantungkan jasad disebut Kramat Gantung.
Namun di balik kisah pertempuran itu, ada pula dongeng yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat, yaitu tentang pembukaan sebuah daerah baru oleh pengikut setia Raden Situbondo. Pengikut ini dikenal sebagai Pangeran Joko Taruno, ditemani seorang sahabatnya yang setia, Savid Panjang. Mereka mendapat tugas membuka hutan di kawasan yang kini dikenal sebagai Keputran.
Ketika hutan itu dibuka, mereka mendapati banyak sekali pohon jambu tumbuh rimbun. Pohon-pohon itu memberi buah yang manis dan segar, menjadi sumber pangan alami bagi masyarakat yang bermukim di sekitarnya. Karena itulah daerah itu dinamai Keputran Kejambon, dari kata “jambu”. Sementara di sisi lain, tanah liat di kawasan berbeda banyak dimanfaatkan untuk membuat gerabah dan kemaron, sehingga wilayah itu kemudian disebut Keputran Panjunan.
Nama Kejambon bukan sekadar penanda geografis. Ia menjadi pengingat bahwa pohon jambu pernah memegang peran penting dalam kehidupan masyarakat setempat. Buah jambu menjadi sumber pangan, memberi vitamin, rasa segar, dan mengikat kebersamaan penduduk pada masa-masa awal terbentuknya kampung tersebut. Hingga kini, cerita itu masih dikenang, menjadikan jambu bukan hanya buah biasa, melainkan bagian dari identitas sejarah sebuah daerah.