
Pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, ketika Raja Hayam Wuruk memimpin, rakyat sedang dilanda wabah penyakit misterius. Tabib terbaik kerajaan sudah dikerahkan, ramuan-ramuan sudah dicoba, namun tak satu pun berhasil menyembuhkan. Dalam kebingungan dan keputusasaan itu, sang raja bermimpi bertemu dengan seseorang bernama Kuti Darbaru, yang diyakini memiliki kemampuan untuk menyembuhkan penyakit yang menimpa negeri. Sejak saat itu, Raja Hayam Wuruk memutuskan untuk mencari keberadaan orang tersebut.
Dalam perjalanan panjangnya, sang raja singgah di sebuah daerah yang pada masa itu masih berada dalam pengaruh Kerajaan Mataram Kuno. Daerah itu kelak dikenal sebagai Pasuruan. Di sana, Raja Hayam Wuruk disambut dengan penuh hormat oleh Mpu Sindok. Sebagai tanda penghormatan, Mpu Sindok menyuguhkan sirih lengkap dengan kapur, gambir, dan buah pinang dalam sebuah puan dari emas.
Raja Hayam Wuruk menerima suguhan itu dengan penuh rasa ingin tahu. Ia mengunyah sirih, merasakan perpaduan rasa getir, segar, sekaligus menenangkan. Tubuhnya terasa lebih bugar, dan ia begitu gembira menikmati pengalaman itu. Berkali-kali, tanpa sadar, Raja Hayam Wuruk mengucapkan kata “Pasuruhan”.
Kata-kata itu begitu membekas hingga Mpu Sindok kemudian menyebut wilayah tersebut sebagai Pasuruhan. Nama itu terus diwariskan, hingga akhirnya dalam Kitab Negara Kertagama karya Mpu Prapanca, wilayah ini tercatat dengan sebutan Pasoeroean. Nama itu diartikan sebagai tempat tumbuhnya tanaman suruh atau sirih, tumbuhan yang sejak dahulu lekat dengan budaya dan kehidupan masyarakat Nusantara.
Tanaman suruh sendiri memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Daun sirih biasa digunakan untuk kegiatan nginang, yaitu tradisi mengunyah sirih bersama kapur, gambir, dan pinang. Selain berfungsi sebagai simbol pergaulan dan keramahan, sirih juga dipercaya memiliki khasiat kesehatan, seperti menjaga kebersihan mulut dan memberikan kesegaran tubuh. Dengan demikian, asal-usul nama Pasuruan bukan hanya kisah sejarah, tetapi juga bukti eratnya keterhubungan antara identitas sebuah daerah dengan jenis pangan tradisional yang tumbuh di tanahnya.