Pada masa silam, di tepian pesisir Madura yang tenang dan berangin lembut, hiduplah seorang tokoh bernama Balipoh. Ia dikenal sebagai sosok yang bijak dan sakti, sering membantu masyarakat pesisir ketika menghadapi bencana alam atau kesulitan hidup. Suatu hari, Balipoh melakukan perjalanan panjang menyusuri garis pantai dari arah Klampis menuju timur. Tujuannya belum pasti, tetapi hatinya dipenuhi niat untuk mencari tempat beristirahat dan menetap.
Ketika Balipoh tiba di sebuah daerah yang kini dikenal sebagai Desa Tolbuk, ia merasa tempat itu begitu menenangkan. Lautnya biru kehijauan, anginnya lembut, dan pasirnya berkilau seperti butiran mutiara. Di tempat itu, Balipoh diturunkan atau berlabuh setelah menempuh perjalanan yang jauh. Dari peristiwa inilah muncul sebutan Tanjung Mondung—atau sebagian orang menyebutnya Modung—yang berasal dari nama makhluk laut yang berperan penting dalam kisah ini.
Dikisahkan bahwa dalam perjalanan itu, Balipoh sempat diselamatkan oleh seekor ikan besar bernama Mondung. Ketika perahu yang ia tumpangi hampir karam akibat badai, ikan Mondung muncul dari kedalaman laut dan menuntun perahu Balipoh hingga mencapai tepi pantai dengan selamat. Merasa sangat berutang budi, Balipoh memandang ke laut dengan penuh rasa haru. Ia kemudian mengucap sumpah sakral sebagai bentuk rasa terima kasih atas pertolongan makhluk laut itu.
Balipoh bersumpah bahwa dirinya dan seluruh keturunannya kelak tidak akan pernah memakan ikan Mondung atau sejenisnya. Ia percaya bahwa mengonsumsi ikan penyelamat itu berarti mengingkari kasih sayang Tuhan yang telah mengirimkan pertolongan melalui makhluk laut. Dalam sumpahnya, Balipoh berkata bahwa siapa pun dari garis keturunannya yang melanggar janji itu akan ditimpa penyakit yang aneh dan sulit disembuhkan.
Sejak saat itu, sumpah Balipoh menjadi bagian dari kepercayaan masyarakat sekitar Tanjung Mondung. Hingga kini, sebagian warga masih memegang pantangan tersebut. Mereka percaya bahwa menghormati makhluk laut berarti menjaga keseimbangan alam dan rasa syukur atas kehidupan yang diberikan.
Dalam kehidupan masyarakat pesisir Madura, laut adalah sumber pangan utama. Ikan Mondung, yang di tempat lain bisa menjadi bahan makanan lezat, justru memiliki nilai simbolik yang berbeda di wilayah ini. Ia bukan sekadar makanan laut, melainkan simbol penghormatan terhadap alam dan sejarah leluhur. Sumpah Balipoh mengajarkan bahwa tidak semua yang bisa dimakan harus dimakan; ada nilai-nilai spiritual dan budaya yang membuat pangan menjadi lebih dari sekadar kebutuhan jasmani.
Kini, kisah Balipoh dan Tanjung Mondung masih diceritakan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pengingat bahwa dalam setiap suapan makanan terdapat hubungan mendalam antara manusia, alam, dan kepercayaan yang membentuk jati diri masyarakat.