Pada zaman dahulu, ketika pengaruh Hindu mulai masuk ke tanah Jawa, datanglah sepasang pengembara bernama Kaki Rembi dan Nyai Rembi. Mereka adalah pasangan yang sederhana, namun memiliki tekad kuat untuk mencari tempat tinggal yang damai. Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya mereka menemukan sebuah kawasan hutan lebat yang dipenuhi tumbuhan pandan.
Di tengah hutan itu berdiri sebuah pohon beringin besar yang kokoh. Pohon tersebut dikenal dengan nama Ringin Be, dan di dekatnya mengalir sebuah sumber air yang jernih. Melihat tempat itu begitu sejuk, asri, dan dikelilingi alam yang kaya, Kaki Rembi dan Nyai Rembi memutuskan untuk menetap di sana. Mereka mulai membangun kehidupan baru dengan membuka lahan. Hutan pandan yang luas mereka tebas sedikit demi sedikit agar bisa ditanami berbagai kebutuhan hidup.
Dalam bahasa Jawa, hutan pandan disebut panDAN anDER. Karena mereka tinggal di sekitar Ringin Be dan menebas hutan pandan, orang-orang yang kemudian mengenalnya menyebut wilayah itu sebagai BeDander, gabungan dari kata Be, pandan, dan ander.
Sumber air yang berada di dekat kediaman Kaki Rembi dan Nyai Rembi tidak pernah kering. Airnya jernih dan segar, mengalir dengan tenang seakan menjaga mereka dari segala kesulitan. Air itu digunakan untuk minum, memasak, serta mandi. Dari generasi ke generasi, sumber air tersebut dipercaya sebagai anugerah yang memberi kehidupan. Hingga kini, air itu menjadi bagian penting dari Pemandian Tirtawana Dander, tempat masyarakat mencari kesegaran sekaligus mengambil berkah dari alam.
Seiring berlalunya waktu, kawasan BeDander berkembang pesat. Pada masa pemerintahan Raja Jayanegara dari Kerajaan Majapahit, daerah itu bahkan pernah dijadikan tempat singgah. Raja bersama Patih Gajah Mada dikisahkan pernah bermalam di wilayah ini ketika terjadi perang Paregreg, sebuah pemberontakan besar pada abad ke-8. Banyak pengikut sang raja yang kemudian tinggal menetap, sehingga BeDander semakin ramai.
Lambat laun, sebutan BeDander disingkat oleh masyarakat menjadi Dander. Nama itu terus bertahan hingga kini, melekat pada desa sekaligus sumber air yang menjadi pusat kehidupan warganya.
Pemandian Tirtawana Dander tidak hanya menyimpan kisah sejarah, tetapi juga menjadi simbol betapa pentingnya air bagi manusia. Airnya digunakan sebagai sumber minum, tempat mandi, sekaligus dipercaya membawa kesejukan batin. Hingga kini, masyarakat Bojonegoro dan sekitarnya masih merasakan manfaat dari sumber air ini.
Legenda Kaki Rembi dan Nyai Rembi pun terus hidup, menjadi pengingat bahwa keberlangsungan hidup manusia sangat bergantung pada keselarasan dengan alam. Pemandian Tirtawana Dander adalah bukti bahwa air tidak sekadar pangan yang menghilangkan dahaga, melainkan juga warisan budaya yang harus dijaga dengan penuh rasa syukur.