Di wilayah ujung timur Pulau Madura, terdapat sebuah pantai yang terkenal dengan hamparan pohon Cemara Udang yang bentuknya melengkung seperti menunduk ditiup angin laut. Pantai itu bernama Lombang. Banyak orang datang ke sana untuk menikmati pasir putih dan semilir angin pesisir, namun tidak banyak yang mengetahui bahwa keberadaan Cemara Udang di tempat itu memiliki kisah panjang yang telah diwariskan secara turun temurun oleh masyarakat sekitar.
Konon pada masa pemerintahan Joko Tole, seorang pemimpin legendaris yang dikenal pula sebagai Ario Kudopanole atau Pangeran Ario Secodiningrat III, Sumenep pernah menghadapi ancaman besar dari seorang pelaut asing bernama Dempo Awang. Dalam catatan Babad Sumenep, tokoh ini diceritakan memiliki sebuah perahu luar biasa. Kapalnya sangat besar, kuat, dan bahkan diyakini mampu terbang di udara. Kedatangannya ke Sumenep bukan untuk berdagang atau bersahabat, melainkan untuk menaklukkan wilayah itu dan membuktikan kesombongannya sebagai penakluk lautan.
Joko Tole yang dikenal sebagai pemimpin berani dan sakti menyadari ancaman tersebut. Ia tidak ingin rakyatnya hidup dalam ketakutan. Dengan kecerdasannya dalam strategi dan kekuatan yang melegenda, ia menghadapi Dempo Awang dalam sebuah pertempuran yang menjadi cerita turun temurun masyarakat Sumenep. Pada puncak pertempuran itu, Joko Tole berhasil menghancurkan kapal raksasa milik Dempo Awang. Kapal tersebut pecah berkeping keping dan tiang tiangnya terpental ke berbagai tempat. Salah satu pecahan tiang itu dipercaya menancap di wilayah Pandian, Sumenep, yang hingga kini menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat setempat.
Masyarakat pesisir Lombang memiliki versi lanjutan yang lebih dekat dengan kehidupan mereka sehari hari. Mereka meyakini bahwa dalam pelayaran terakhirnya, Dempo Awang membawa berbagai barang dari negeri jauh, termasuk bibit tanaman yang hanya dikenal tumbuh di kawasan Tiongkok. Ketika kapalnya hancur dihempas kekuatan Joko Tole, sebagian muatannya terbawa ombak dan tersapu hingga ke pesisir Pantai Lombang. Bibit bibit itu kemudian tumbuh menjadi pohon yang kini dikenal sebagai Cemara Udang. Bentuknya yang unik membuat masyarakat percaya bahwa tanaman itu memang asing dan berasal dari negeri jauh.
Keyakinan ini terus hidup di tengah masyarakat Legung, Dapenda, dan Lombang. Para penduduk pesisir telah lama melihat bahwa pohon ini berbeda dari tanaman asli Madura. Para penjual bibit dan pembuat bonsai di sekitar Pantai Lombang juga sering menceritakan bahwa banyak orang tua di kampung mereka percaya bahwa Cemara Udang adalah peninggalan dari ekspedisi Dempo Awang pada masa lalu. Kisah itu bukan sekadar cerita, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya dan lanskap alam yang kini menjadi kebanggaan masyarakat Sumenep.
Keberadaan Cemara Udang kemudian berkembang menjadi salah satu kekhasan pangan lokal. Sebagian masyarakat memanfaatkan bagian tertentu dari tanaman ini dalam pengolahan bahan pangan tradisional, terutama sebagai penghasil aroma alami pada beberapa jenis olahan laut. Selain itu, daerah pesisir yang teduh berkat rindangnya Cemara Udang menjadi tempat ideal untuk mengeringkan ikan dan hasil laut lain secara alami. Dengan begitu, pohon pohon ini tidak hanya memperindah pemandangan tetapi juga memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi pangan masyarakat setempat.
Cerita tentang Dempo Awang dan asal usul Cemara Udang tidak berhenti sebagai legenda semata. Kisah ini mengingatkan kita bahwa hubungan antara manusia dan alam telah terjalin sejak lama melalui peristiwa peristiwa yang membentuk jati diri suatu daerah. Dari kisah tersebut, masyarakat Madura belajar bahwa setiap unsur alam memiliki peran dan cerita. Keberadaan Cemara Udang di Pantai Lombang bukan hanya soal asal usulnya, melainkan juga tentang bagaimana manusia menjaga, memanfaatkan, dan merawat alam sebagai warisan yang tak ternilai. Melalui legenda ini, kita diingatkan bahwa kearifan lokal selalu mengajarkan harmoni, rasa syukur, dan pentingnya menjaga keseimbangan agar kehidupan terus berjalan dengan penuh makna.