Asal Usul Sambikerep

URL Cerital Digital: https://pemerintahan.surabaya.go.id/kelurahan_sambikerep/profil-sejarah

Di pinggiran barat Kota Surabaya, terdapat sebuah wilayah yang kini dikenal sebagai Sambikerep. Nama itu terdengar unik di telinga, seolah menyimpan kisah lama yang terlupakan di balik gemerlapnya kota modern. Namun bagi para sesepuh setempat, nama Sambikerep bukan sekadar penanda tempat. Ia adalah warisan dari masa ketika alam menjadi sahabat manusia, dan setiap pohon memiliki makna bagi kehidupan.

Dahulu kala, sebelum rumah-rumah megah berdiri dan jalan-jalan beraspal terbentang, wilayah Sambikerep hanyalah hamparan luas sawah dan kebun yang hijau. Di antara lahan-lahan itu tumbuh subur pohon-pohon sambi, sejenis tanaman berdaun rimbun yang sering digunakan masyarakat untuk mengobati luka dan penyakit kulit. Orang-orang tua di sana percaya bahwa pohon sambi adalah karunia bumi yang mampu menyembuhkan, asal diambil dengan hati yang tulus dan tidak serakah.

Pohon sambi memiliki kulit batang berwarna cokelat keabu-abuan, dengan daun lebar yang beraroma khas saat diremas. Saat musim hujan tiba, batangnya sering mengeluarkan getah bening yang dimanfaatkan sebagai bahan obat alami. Penduduk kampung akan menampung getah itu dengan wadah tanah liat, lalu mencampurnya dengan air dan sedikit garam untuk membersihkan luka atau ruam di kulit. Selain itu, daun mudanya sering direbus menjadi air ramuan penurun panas dan penguat daya tahan tubuh. Bagi masyarakat masa itu, pohon sambi bukan hanya tanaman liar, melainkan sahabat yang membantu mereka bertahan hidup.

Konon, di masa lampau, seorang petani bernama Pak Wiryo tinggal di tepi hutan kecil yang dipenuhi pohon sambi. Setiap pagi, ia berjalan menyusuri kebunnya sambil memeriksa pohon-pohon itu. Ia merawatnya seperti merawat anak sendiri, tak pernah menebang sembarangan, dan selalu mengucap terima kasih setiap kali mengambil daun atau getahnya. Karena kebaikannya, tanaman di kebunnya tumbuh sangat subur hingga banyak orang datang memohon bibit sambi darinya. “Ambil secukupnya, asal jangan lupa mendoakan tanah ini,” katanya lembut pada setiap tamu yang datang.

Waktu berjalan, penduduk di sekitar mulai menanam pohon sambi di lahan mereka sendiri. Lama kelamaan, wilayah itu dipenuhi oleh pohon sambi yang tumbuh rapat dan sering terlihat dari kejauhan. Orang-orang pun mulai menyebut daerah itu sebagai Sambi Kerep, dari kata sambi yang berarti pohon sambi dan kerep yang berarti banyak atau sering. Nama itu kemudian berubah menjadi Sambikerep, seperti yang dikenal sampai sekarang.

Seiring berkembangnya zaman, sawah-sawah perlahan berganti menjadi perumahan, jalan besar, dan pusat perbelanjaan. Namun cerita tentang pohon sambi tetap hidup di antara warga tua yang masih menyimpan kenangan akan masa ketika daun sambi menjadi obat, dan alam adalah apotek yang tak pernah menolak manusia. Kini, meskipun pohon sambi semakin jarang dijumpai, nama Sambikerep tetap menjadi pengingat bahwa tempat ini pernah menjadi tanah yang subur dan penuh kehidupan.

Bagi generasi muda, kisah ini mengandung pesan agar tidak melupakan akar dan nilai yang diwariskan leluhur: bahwa setiap tanaman, sekecil apa pun, memiliki fungsi dan makna bagi keberlangsungan hidup manusia. Pohon sambi bukan hanya bagian dari sejarah, melainkan simbol keseimbangan antara manusia dan alam, antara kebutuhan dan rasa syukur.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.