Sumber Beji di Desa Tamiajeng, Trawas, merupakan salah satu sumber air tertua dan paling bersejarah di wilayah tersebut. Selain menjadi sumber air jernih yang kini dimanfaatkan untuk irigasi dan tempat hidup ikan yang dapat dikonsumsi, lokasi ini juga menyimpan kisah panjang sejak masa Kerajaan Majapahit.
Dikisahkan bahwa Raja Majapahit mengutus seorang tumenggung bernama Mbah Surodito untuk membuka hutan di lembah di antara Gunung Welirang dan Gunung Penanggungan. Wilayah ini dipilih karena memiliki daratan datar yang menghubungkan dua lereng gunung suatu kondisi geografis yang unik di kawasan Trawas. Udara di Tamiajeng pun terasa lebih hangat dibanding desa lain karena letaknya yang terlindungi dan berada di lembah khusus tersebut.
Pada masa lampau, di utara Tamiajeng terdapat bukit yang disebut Gunung Bale. Sejak era Kerajaan Kahuripan di bawah Prabu Airlangga, kawasan ini sudah digunakan sebagai pusat pendidikan dan pelatihan prajurit. Ketika memasuki era Majapahit, Gunung Bale berubah fungsi menjadi tempat peristirahatan raja-raja Majapahit. Sebelum memasuki area tersebut, terdapat sebuah pos pemeriksaan yang disebut Putuk Samaran (atau Putuk Semarang oleh sebagian warga), tempat para tamu kerajaan harus berhenti sebelum menghadap.
Dari jejak sejarah ini, dapat dipahami mengapa wilayah Trawas kini menjadi kawasan wisata populer dengan banyak hotel dan vila. Sejak zaman kerajaan pun, wilayah ini sudah menjadi tempat favorit untuk beristirahat dan menikmati alam. Letak Tamiajeng yang strategis diduga menjadikannya salah satu dusun pertama yang dibuka hutannya untuk permukiman, jauh sebelum dusun-dusun lain di Trawas terbentuk.
Setelah Mbah Surodito wafat, perkembangan permukiman di daerah ini dilanjutkan oleh seorang ulama bernama Ki Gede Padusan. Ia dikenal pula sebagai pembabat alas Desa Padusan di Kecamatan Pacet. Perjalanan Ki Gede Padusan menuju Taman Ayu (wilayah Tamiajeng dahulu) melalui jalur kuno Tamiajeng–Kemloko–Krapyak–Padusan. Di sekitar Sumber Beji, ia mendirikan sebuah musholla untuk mengajarkan agama Islam kepada masyarakat sekitar.
Walau bangunan musholla tersebut kini telah tiada, batu-batu andesit bekas peninggalannya masih ditemukan di area Sumber Beji. Jejak inilah yang kemudian menjadi bukti sejarah bahwa Sumber Beji bukan hanya pusat mata air, tetapi juga pusat penyebaran agama dan peradaban masyarakat Tamiajeng di masa lampau.