Asal Usul Telaga dan Watu Lumpang Munggugianti

URL Cerital Digital: https://desamunggugianti.gresikkab.go.id/artikel/2022/9/9/legenda-desa-munggugianti-sumber-buku-bendjeng-tempo-doeloe

Di sebuah desa yang tenang bernama Munggugianti, masyarakat masih meyakini keberadaan leluhur desa atau danyang yang mereka sebut Dewi Ambar Sari. Konon, sang Dewi bersemayam di sebuah telaga yang terletak di sisi utara desa, tidak jauh dari jalan arteri kabupaten. Telaga itu dulu menyimpan sebuah keajaiban. Di tengahnya berdiri sebuah batu besar, unik karena memiliki lubang di bagian tengah hingga menyerupai lumpang, alat tradisional untuk menumbuk padi.

Bagi masyarakat Jawa, lumpang bukan sekadar batu berlubang. Ia adalah simbol pangan pokok, kesuburan, dan keberlangsungan hidup. Maka tidak heran bila setiap malam Jum’at Legi, warga desa berkumpul di telaga untuk menggelar barikan atau doa bersama. Mereka meyakini doa yang dipanjatkan di sekitar batu lumpang akan membawa berkah, keselamatan, dan hasil panen yang melimpah.

Namun, suatu waktu, warga berniat memindahkan batu lumpang tersebut ke tempat lain. Mereka mengangkatnya bersama-sama, namun batu itu tidak bergeser sedikit pun. Berulang kali dicoba, hasilnya tetap sama. Hingga seorang orang tua sakti memberi petunjuk. Hanya anak-anak gembala atau arek angon yang masih suci hatinya yang mampu memindahkan batu itu.

Petunjuk itu pun diikuti. Seorang anak remaja yang masih polos mencoba mengangkat, dan ajaibnya batu lumpang itu dapat dipindahkan dengan mudah. Peristiwa ini menjadi pengingat bagi warga desa bahwa hanya jiwa yang bersih dan bertanggung jawab yang sanggup memikul beban seberat apa pun. Seperti halnya seorang anak gembala yang sejak kecil sudah terbiasa menjaga ternak, ia mampu menjalani tanggung jawab dengan ketulusan.

Selain itu, kisah batu lumpang juga meneguhkan pentingnya kerja sama dan gotong royong. Masyarakat Munggugianti sejak dulu menjunjung tinggi kebersamaan. Mereka membangun pagar desa dari rumpun bambu, mendirikan pos jaga di setiap pintu keluar, dan melaksanakan ronda malam secara bergilir. Uniknya, hanya warga yang memiliki sawah luas yang diwajibkan ikut ronda, sebuah tanda bahwa mereka yang mendapat rezeki pangan lebih juga berkewajiban menjaga ketenteraman desa.

Cerita tentang Dewi Ambar Sari dan batu lumpang di telaga bukan hanya legenda, tetapi juga cermin dari hubungan erat antara manusia, pangan, dan spiritualitas. Lumpang yang berlubang di tengah telaga menjadi simbol bahwa pangan adalah pusat kehidupan, yang harus dijaga dengan doa, tanggung jawab, dan kebersamaan. Hingga kini, masyarakat Munggugianti masih mengingatnya sebagai bagian dari warisan budaya yang memberi makna pada kehidupan mereka.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.