Asal Usul Upacara Nyadher

URL Cerital Digital: https://kebundadaptimur.datadesa.com/2017/08/asal-usul-upacara-nyadher.html

Di pesisir Madura bagian timur, tepatnya di Desa Pinggir Papas, ada sebuah tradisi kuno yang hingga kini tetap dijaga dengan penuh hormat. Tradisi itu bernama Nyadher, sebuah upacara nadzar yang dilakukan dua kali setiap tahun oleh warga desa. Nyadher bukan sekadar ritual, melainkan bentuk penghormatan kepada sosok yang dianggap berjasa besar dalam kehidupan masyarakat pesisir, yaitu Mbah Anggasuto, tokoh yang dipercaya sebagai orang pertama yang menemukan cara membuat garam di desa tersebut.

Menurut kisah yang diwariskan secara turun temurun, Mbah Anggasuto adalah seorang panglima perang dari Kerajaan Bali. Pada masa lampau, kerajaan itu terlibat pertempuran besar dengan Kerajaan Sumenep. Pasukan Bali mengalami kekalahan yang berat, banyak prajurit gugur, dan sebagian panglima tak kembali. Dalam kekacauan dan duka tersebut, hanya sedikit yang selamat, dan salah satunya adalah Mbah Anggasuto. Ia melarikan diri menembus hutan dan melewati bukit karang hingga akhirnya tiba di pesisir Pinggir Papas.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di pantai itu, laut sedang surut. Hamparan pasir tampak luas, dan di antara guratan pasir ia melihat jejak telapak kaki besar yang masih tergenang sedikit air laut. Tidak ada yang istimewa pada saat itu, namun Mbah Anggasuto merasa tempat itu memiliki ketenangan yang tidak ia dapatkan sejak perang berlangsung. Ia kemudian berpindah menetap sementara di Desa Kebundadap Timur yang tidak jauh dari pantai tersebut, sambil memulihkan diri dan mencari makan dari hasil alam sekitar.

Beberapa hari kemudian ia kembali ke pantai Pinggir Papas. Jejak telapak kaki yang dulu ia lihat ternyata masih ada. Namun kali ini sesuatu berubah. Di dasar cekungan itu tampak butiran butiran kecil yang berkilau terkena cahaya matahari sore. Mbah Anggasuto memungutnya dan merasakan bahwa butiran itu asin. Ia tertegun. Butiran itu adalah garam, sesuatu yang pada waktu itu belum banyak diketahui proses pembentukannya oleh masyarakat setempat.

Dari penemuan kecil itulah sebuah gagasan muncul di benak Mbah Anggasuto. Ia mulai bereksperimen dengan menampung air laut di cekungan sederhana. Ia menunggu air itu mengering dengan kesabaran seorang pertapa. Sambil bekerja, ia bernadzar pada dirinya sendiri. Jika garam benar benar bisa terbentuk, ia akan membuat selamatan sebagai bentuk syukur.

Hari hari berlalu dan percobaannya membuahkan hasil. Air laut yang ia tampung menguap, menyisakan kristal kristal putih yang gurih. Garam itu menjadi tanda bahwa laut dan matahari dapat bekerja sama memberi anugerah bagi manusia. Menepati nadzarnya, Mbah Anggasuto mengadakan selamatan kecil. Warga yang mengetahui kabar itu pun mulai berdatangan, mendengarkan ceritanya, dan belajar bagaimana cara membuat garam dari laut di depan mata mereka.

Dari sanalah pengetahuan mengenai garam menyebar ke seluruh Desa Pinggir Papas. Warga mulai membuat petak petak kecil untuk menampung air laut yang kemudian dijemur hingga menjadi kristal. Garam yang dihasilkan digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, pengolahan ikan, bahkan diperdagangkan ke desa desa lain. Garam ini bukan hanya menjadi pangan yang esensial, tetapi juga menjadi sumber kehidupan ekonomi bagi masyarakat pesisir.

Sebagai bentuk penghormatan atas jasa besar Mbah Anggasuto, warga desa meneruskan tradisi Nyadher. Upacara itu digelar dua kali setahun sebagai perwujudan rasa syukur sekaligus pengingat bahwa kehidupan mereka tidak terlepas dari ajaran seorang pendatang yang menemukan makna besar dari sebuah jejak kaki di pasir.

Nyadher bukan hanya ritual. Ia adalah kisah tentang ketekunan, tentang bagaimana manusia dapat membaca tanda tanda alam, dan tentang bagaimana pangan lahir dari kerja sama antara manusia dan lingkungannya. Di balik setiap butir garam yang dihasilkan penduduk Pinggir Papas, tersimpan doa, kerja keras, dan warisan kebijaksanaan. Tradisi ini mengingatkan kita bahwa pangan adalah anugerah yang hadir melalui pemahaman akan alam serta tekad menjaga hubungan baik dengan tanah, laut, dan sesama.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.