Bhuju’ Mokko

URL Cerital Digital: https://bintangpusnas.perpusnas.go.id/konten/BK88802/perca-car-ta-d-ri-madhur-antologi-legenda-para-bhuju-madura

Di sebuah dataran tenang di Madura, dahulu berdiri dua kampung kecil yang hidup berdampingan tanpa nama resmi. Kedua kampung itu dipimpin oleh dua tokoh yang dihormati, yaitu Pak Karto dan Pak Haris. Tanah mereka subur, tetapi hanya satu kampung yang memiliki sumber air yang melimpah. Sementara itu, kampung yang lain harus berjalan jauh setiap hari untuk mendapatkan air bersih. Setiap pagi, para warga dari kampung Pak Karto datang membawa kendi tanah liat dan tempayan bambu menuju kampung Pak Haris untuk mengambil air. Meski perjalanan melewati tanah berdebu dan jalan berbatu, mereka tetap berjalan dengan hati tabah dan penuh harapan.

Keindahan kisah ini terletak pada sikap saling membantu yang tumbuh di antara warga dua kampung tersebut. Karena setiap hari bertemu di sumber air, hubungan mereka semakin dekat. Senyum ramah menjadi sapaan yang biasa, dan tangan yang terulur membantu mengangkat tempayan terasa seperti tangan keluarga sendiri. Warga kampung Pak Haris dengan ikhlas membuka sumber air mereka bagi tetangga yang membutuhkan. Mereka percaya bahwa air adalah titipan Tuhan dan setiap teguk yang menghilangkan dahaga adalah pahala kebaikan. Sebaliknya, warga kampung Pak Karto selalu mengucap syukur kepada Allah dan berterima kasih atas kemurahan hati saudara mereka. Kebersamaan itu tumbuh subur, melahirkan rasa persaudaraan yang tak lagi terbatasi oleh tanah atau batas kampung.

Di antara interaksi sederhana itu, pangan tradisional menjadi pengikat hubungan mereka. Setiap kali warga kampung Pak Karto datang mengisi air, mereka sering membawa sedikit bekal seperti nasi jagung, singkong rebus, atau rengginang hasil olahan tangan mereka. Makanan sederhana itu menjadi simbol ketulusan dan rasa terima kasih. Pangan bukan hanya untuk mengisi perut, tetapi juga menjadi perekat persahabatan. Saat dimakan bersama di pinggir sumber air, makanan itu menghadirkan kehangatan dan rasa syukur atas hasil bumi Madura yang tak pernah ingkar janji bagi mereka yang bersungguh sungguh merawatnya.

Seiring waktu, keakraban kedua kampung itu semakin menguat. Namun ada satu hal yang belum mereka miliki, yaitu nama untuk kampung mereka masing-masing. Setelah bermusyawarah, warga kampung pemilik sumber air memberi nama tetangga mereka Kapong. Nama ini berasal dari kata ngampong dalam bahasa Madura yang berarti menumpang air. Sebaliknya, warga Kapong menyebut kampung tetangga mereka Sotabar. Istilah ini berasal dari kata tabar yang berarti tawar, menggambarkan air bersih yang melimpah namun berasa tawar dari sumber setempat. Begitulah dua kampung itu akhirnya diberi nama, tidak dengan perselisihan, melainkan dengan kesepakatan yang lahir dari persahabatan dan saling menghormati.

Cerita ini mengajarkan kita bahwa berkah hidup bukan hanya datang dari kemakmuran, tetapi juga dari hati yang terbuka untuk berbagi. Pangan yang sederhana, air yang jernih, dan kebersamaan yang tulus menjadi bukti bahwa kekayaan sejati adalah kebaikan yang dijalankan bersama. Di tengah dunia yang semakin individualistis, kisah Kapong dan Sotabar mengingatkan kita bahwa hidup yang damai tercipta dari gotong royong, rasa syukur, dan perhatian terhadap sesama. Semoga nilai luhur ini terus diwariskan kepada generasi mendatang, agar tanah kita selalu subur dan hati kita senantiasa penuh cinta untuk berbagi.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.