Di masa lalu, sebelum suara kendaraan dan cahaya listrik mengenal pelosok pedesaan, terdapat sebuah desa bernama Kertagenah Tengah yang hidup dalam keseimbangan dengan alamnya. Desa ini dikelilingi pepohonan besar dan hamparan tanah hijau yang subur. Namun, yang paling masyhur dari desa ini adalah sebuah sumber mata air besar yang menjadi nadi kehidupan masyarakat setempat. Mata air itu tidak hanya jernih dan sejuk, tetapi juga penuh dengan ikan yang berenang lincah di dalamnya.
Sejak leluhur pertama desa ini membuka lahan dan membangun rumah, sumber air itu telah menjadi tempat suci. Airnya mengalir memenuhi kolam alami dan memberi kehidupan bagi sawah dan ladang. Para nelayan kecil desa tidak pernah menangkap ikan sembarangan, sebab mereka percaya ikan di dalamnya adalah titipan sekaligus berkah. Setiap keluarga hanya mengambil secukupnya, untuk dimasak menjadi hidangan sederhana yang kaya rasa. Ikan bakar yang harum di panggangan, ikan pindang yang gurih dalam kuah bening, atau pepes ikan yang menggugah selera adalah bagian dari keseharian masyarakat Kertagenah Tengah.
Namun sumber itu bukan sekadar tempat mencari makanan. Masyarakat percaya bahwa sumber tersebut dijaga oleh sesosok penjaga gaib. Konon, setiap malam Jumat legi, muncul sesosok harimau di tepi sumber, seakan mengawasi siapa saja yang mendekat. Harimau itu tidak pernah menerkam atau mendatangkan celaka. Ia berdiri tegak dengan tatapan tajam, melambangkan kekuatan dan kewaspadaan. Wujudnya dipercaya bukan binatang biasa, melainkan penjaga spiritual desa yang memastikan manusia selalu menghormati alam dan batasnya.
Ketika bayangan harimau muncul, masyarakat menunduk hormat dalam hati. Mereka tidak berani berperilaku serakah atau merusak tempat suci itu. Sebab mereka percaya, selama sumber dijaga dan ikan diperlakukan dengan bijak, desa akan selalu diberi ketenteraman, kesehatan, dan rezeki. Air mengalir jernih, ikan tetap berkembang, dan tanah tetap produktif. Sumber mata air itu seperti ibu yang mengasuh anak anaknya. Memberi minum, makanan, dan ketenangan jiwa.
Dalam kehidupan masyarakat Kertanegara Tengah, ikan bukan hanya makanan. Ikan adalah simbol keseimbangan, kesabaran, dan kemurahan alam. Sebutir nasi dan sepotong ikan adalah hidangan sederhana namun penuh berkah. Mereka tidak pernah melupakan bahwa makanan berasal dari bumi yang harus dijaga. Anak anak desa belajar sejak kecil bahwa mencintai alam sama dengan mencintai hidup itu sendiri. Mengambil secukupnya dari sumber, dan mengembalikan rasa syukur melalui doa dan laku hormat.
Dari legenda ini, kita belajar bahwa hubungan manusia dengan alam begitu erat dan sakral. Sumber air adalah rahim kehidupan, dan ikan di dalamnya adalah anugerah yang hanya tumbuh dalam ketenangan. Harimau penjaga yang muncul bukan untuk menakuti, tetapi mengingatkan bahwa alam memiliki penjaganya sendiri. Barangkali ia hadir agar manusia tidak lupa bahwa ada batas yang tidak boleh dilewati, ada keanggunan dalam menjaga keseimbangan, dan ada kekuatan dalam menghargai pemberian Tuhan.
Kisah ini mengajarkan kita untuk menjaga sumber daya air, memelihara kehidupan di dalamnya, dan menghargai setiap makanan yang hadir di meja. Ketika kita menghormati alam, alam pun akan menjaga kita. Seperti mata air Kertagena yang mengalir lembut, memberi kehidupan tanpa henti, marilah kita belajar menjadi manusia yang rendah hati, bersyukur, dan senantiasa menjaga keseimbangan dengan bumi tempat kita hidup. Semoga legenda ini hidup terus sebagai pengingat bahwa kearifan leluhur adalah cahaya yang menuntun langkah menuju masa depan yang lebih damai dan berkelimpahan.