
Di sebuah desa yang tenang di kawasan Blitar, berdirilah sebuah pohon besar yang sudah ada sejak masa nenek moyang. Pohon itu menjulang tinggi dengan batang tebal dan akar yang mencengkeram tanah seperti tangan raksasa. Daunnya lebat, meneduhkan area di sekitarnya, dan buahnya yang berbulu halus sering dimanfaatkan warga untuk obat serta bahan kapuk. Namun di balik manfaatnya, pohon itu dikenal sebagai pohon keramat, dijaga oleh makhluk halus, dan tidak boleh ditebang tanpa izin.
Pohon itu tumbuh di dekat rumah seorang lelaki tua bernama Mbah Randu. Ia adalah sesepuh desa, dikenal bijak dan tenang. Mbah Randu selalu melarang warga untuk menebang pohon besar itu, bukan karena keserakahan, melainkan karena ia tahu pohon itu memiliki peran penting bagi keseimbangan alam dan kehidupan warga. Pohon itu menyerap air tanah, meneduhkan sawah di sekitarnya, dan buahnya menjadi bahan pengobatan alami bagi masyarakat.
Namun waktu terus berjalan, dan di desa itu muncul kebutuhan baru. Warga ingin membangun sebuah balai desa untuk tempat musyawarah dan kegiatan bersama. Sayangnya, satu-satunya lahan yang dianggap cocok adalah tempat di mana pohon besar itu tumbuh.
Suatu hari, ketika Mbah Randu pergi ke luar desa, empat orang lelaki desa berkumpul diam-diam di rumahnya. Mereka adalah Saman, Parto, Karji, dan Mas Karyo. Dengan wajah tegang namun bersemangat, mereka membahas rencana untuk menebang pohon keramat itu.
“Kalau kita terus menunggu izin Mbah Randu, balai desa tidak akan pernah berdiri,” kata Saman.
“Benar,” sahut Parto, “pohon itu besar memang, tapi kalau ditebang cepat-cepat, mungkin tidak akan terjadi apa-apa.”
Akhirnya mereka sepakat. Untuk memastikan penebangan berjalan lancar, mereka mengundang seorang dukun dari desa seberang, Mbah Ronggo, yang terkenal ahli dalam urusan gaib. Dengan dupa menyala dan mantra yang bergema di bawah sinar rembulan, Mbah Ronggo memimpin ritual di sekitar pohon itu.
Setelah ritual selesai, Saman mengayunkan golok besar ke batang pohon. Namun saat bilah golok menyentuh kayu, terdengar suara “tang!” yang keras, dan golok itu terpental kembali, hampir mengenai kakinya sendiri. Ia mencoba lagi, namun hasilnya sama. Bilah golok tidak mampu menembus kayu pohon, bahkan tak meninggalkan bekas sedikit pun.
Karji mencoba dengan kapaknya, lalu Mas Karyo ikut membantu. Tapi setiap kali mereka menebas, alat yang digunakan seolah mantul, seperti memantul dari benda besi. Warga yang menonton mulai berbisik ketakutan. “Mungkin benar pohon ini dijaga,” ujar salah satu dari mereka.
Rasa takut mulai menyelimuti seluruh desa. Beberapa warga bahkan melihat kilatan cahaya aneh di sekitar batang pohon pada malam hari. Hingga akhirnya, ketika suasana makin mencekam dan tak ada yang berani mendekat, Mbah Randu tiba-tiba kembali ke desa. Ia datang bersama seorang pemuda berwajah tenang, mengenakan pakaian sederhana namun auranya menenangkan.
Warga segera mengerumuni mereka. “Mbah, apakah ini orang yang akan menebang pohon itu?” tanya Saman ragu.
Mbah Randu mengangguk. “Betul. Pemuda ini bukan berasal dari desa kita. Ia datang dari tempat jauh dan memiliki hati yang bersih. Penunggu pohon itu telah berkata kepadaku dalam mimpi, bahwa pohon ini hanya boleh ditebang oleh seseorang yang bukan penduduk sini.”
Semua warga terdiam. Pemuda itu lalu melangkah maju dengan tenang, membawa kapak sederhana. Ia menatap pohon itu sejenak, lalu memejamkan mata sambil berdoa. Setelah itu, dengan satu ayunan yang mantap, kapaknya mengenai batang pohon. Suaranya berat namun lembut, dan kali ini kayu pohon benar-benar terbelah.
Warga terperangah. Dalam beberapa kali tebasan, pohon besar itu akhirnya tumbang perlahan, meninggalkan bunyi gemuruh yang mengguncang tanah. Setelah pohon itu roboh, udara di sekitar menjadi lebih ringan. Tak ada lagi suara aneh atau hawa berat yang biasanya terasa di sana.
Mbah Randu menatap sisa batang pohon itu dengan mata yang sendu. “Pohon ini bukan sekadar kayu,” katanya perlahan. “Ia sudah memberi banyak hal bagi kita. Dari buahnya yang menyembuhkan, dari kapuknya yang menghangatkan, dan dari keteduhannya yang melindungi. Maka jangan lupakan kebaikannya meski kini ia tumbang.”
Dari batang pohon itu, sebagian kayunya digunakan untuk membuat tiang balai desa, sebagai simbol bahwa kebaikan pohon tetap hidup dalam setiap kegiatan masyarakat. Buahnya yang tersisa dipetik dan dijadikan obat, sementara kapuknya digunakan warga untuk bantal dan kasur.
Sejak saat itu, warga menamai pohon tersebut sebagai “Pohon Mantul,” karena kejadian golok yang memantul setiap kali ditebaskan. Cerita tentang pohon itu diwariskan turun-temurun sebagai pengingat bahwa alam memiliki kekuatan dan kehendak sendiri.
Mbah Randu mengajarkan satu hal penting kepada warga: bahwa setiap bagian dari alam memiliki jiwa dan perannya sendiri, dan manusia harus belajar menghormati sebelum mengambil.
Kini, di tempat pohon itu dulu berdiri, berdiri sebuah balai desa yang ramai dan penuh kehidupan. Namun setiap kali warga berkumpul, mereka selalu mengenang pohon besar yang pernah tumbuh di sana, pohon yang mengajarkan arti keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian alam.