
Di tanah Jawa Timur yang subur, berdiri sebuah kerajaan besar yang diperintah oleh seorang raja sakti dan bijaksana bernama Dewasimha. Sang raja hidup di istana yang megah, berkilauan oleh cahaya api suci yang dikenal dengan nama Sang Putikewara. Api suci ini tidak hanya menjadi simbol kemegahan kerajaan, tetapi juga lambang perlindungan dan kekuatan yang menyatukan rakyat.
Dewasimha memiliki seorang putra yang kelak menjadi penerus takhta. Putra itu bernama Gajayana, seorang raja yang kelak dikenang karena kebijaksanaan dan kebaikannya. Setelah menggantikan ayahnya, Raja Gajayana memimpin dengan penuh kasih. Ia menjaga kerajaannya dari segala mara bahaya, melindungi rakyatnya, dan memperlakukan mereka dengan adil.
Salah satu hal yang membuat Raja Gajayana begitu dicintai adalah penghormatannya yang besar kepada para pendeta. Di antara mereka, Resi Agastya adalah sosok yang sangat dihormati. Untuk mengabdikan dirinya kepada sang resi, Raja Gajayana membangun sebuah tempat suci bernama Malangkuçeçwara. Tempat ini diyakini sebagai penawar segala penyakit dan malapetaka, sehingga menjadi pusat pengharapan dan doa rakyat.
Namun penghormatan Raja Gajayana tidak berhenti di situ. Ia menghadiahkan tanah pertanian yang luas kepada para pendeta, lengkap dengan lembu dan kerbau sebagai hewan pengolah sawah. Lembu dan kerbau ini tidak hanya membantu membajak tanah, tetapi juga menjadi sumber protein bagi rakyat karena daging dan susunya dapat dikonsumsi. Sawah-sawah yang diberikan pun ditanami padi, menjadi sumber utama karbohidrat bagi kehidupan masyarakat. Dengan demikian, pangan dan pertanian menjadi inti dari kesejahteraan rakyat pada masa itu.
Gajayana juga memberikan budak laki-laki dan perempuan untuk membantu para pendeta dalam mengurus tanah dan hasil panen. Keputusan raja bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. Siapa pun yang mencoba menentang kehendaknya akan mendapat celaka. Kebijakan ini menunjukkan betapa besar penghormatan Raja Gajayana terhadap kaum bijak dan betapa pentingnya sawah, lembu, kerbau, dan padi dalam menopang kehidupan rakyat serta menjaga hubungan harmonis antara kerajaan dan kaum pendeta.
Kisah tentang Raja Dewasimha dan Raja Gajayana ini kemudian diabadikan dalam prasasti Dinaya atau Kanjuruhan. Dari sinilah lahir nama Malangkuçeçwara, yang menjadi cikal bakal nama Malang hingga kini. Nama itu bukan sekadar penanda sebuah wilayah, melainkan jejak sejarah tentang raja bijaksana yang menempatkan pangan, pertanian, dan penghormatan kepada para pendeta sebagai fondasi kejayaan kerajaannya.