Sedekah Bumi atau Ruwah Dusun merupakan tradisi tahunan masyarakat Dusun Sukosari yang dilakukan menjelang bulan suci Ramadan. Tradisi ini menjadi momen penting untuk mendoakan orang tua, leluhur, dan para pendahulu dusun yang diyakini telah berjasa besar dalam membangun peradaban hingga saat ini. Melalui tradisi ini, warga mengekspresikan rasa syukur atas nikmat dan rezeki yang diberikan Allah SWT dengan berbagi kepada sesama.
Persiapan dilakukan secara bergotong-royong oleh warga. Salah satu elemen penting dalam tradisi ini adalah ancak, sebuah wadah hasil bumi yang dihias dengan kreatif. Di dalamnya berisi sayur-sayuran, buah-buahan, makanan sesaji, serta berbagai barang bermanfaat lainnya. Selain menjadi simbol kesejahteraan dan kesuburan bumi, sayur dan buah dalam ancak juga mencerminkan pentingnya pangan berserat yang bermanfaat bagi kesehatan masyarakat.
Ancak biasanya dipikul beramai-ramai atau didorong menggunakan roda, lalu diarak dalam prosesi bersama. Dahulu, ancak dipersembahkan untuk roh leluhur sebagai penghormatan adat. Namun, seiring berkembangnya ajaran Islam di masyarakat setempat, fungsi ancak bergeser menjadi simbol penghormatan dan sarana berbagi, bukan lagi persembahan dalam arti spiritual.
Meski demikian, nilai sakralnya tetap dijaga. Warga dilarang berebut isi ancak sebelum waktunya karena esensi dari tradisi ini adalah sedekah dan kebersamaan. Setelah prosesi selesai, isi ancak dibagikan kepada masyarakat sebagai bentuk syukur dan solidaritas sosial.
Tradisi Sedekah Bumi di Dusun Sukosari tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga mempererat hubungan antarmasyarakat, sekaligus mengingatkan pentingnya syukur dan berbagi dalam kehidupan sehari-hari.