
Di sebuah desa yang tenang di wilayah Prambon, Trenggalek, terdapat sebuah kudapan tradisional yang namanya begitu unik dan sering menimbulkan salah paham. Makanan itu disebut dempul. Bagi sebagian orang, kata dempul langsung mengingatkan pada bedak atau bahan perekat bangunan. Namun bagi masyarakat Prambon, dempul adalah sajian istimewa yang telah diwariskan sejak masa lampau, sebuah hidangan sederhana berbahan dasar tepung gaplek yang dibalut pada tempe atau teri untuk kemudian digoreng hingga matang.
Dempul sering dianggap mirip dengan tempe goreng, tetapi keduanya berbeda jauh. Tempe goreng yang umum ditemukan di warung biasanya dibuat menggunakan tepung serbaguna yang menghasilkan tekstur renyah dan mudah dikunyah. Dempul justru menawarkan sensasi yang lain. Tepung gaplek yang digunakan berasal dari singkong yang dikeringkan lalu ditumbuk halus. Bahan itu menciptakan balutan yang padat dan kenyal, memberikan gigitan yang lebih kokoh dan rasa gurih yang khas. Teksturnya memang lebih keras, sehingga membutuhkan sedikit usaha untuk dikunyah, tetapi justru keunikan inilah yang membuat dempul dicintai oleh masyarakat setempat.
Dalam keseharian masyarakat Prambon, dempul hadir dalam dua varian utama. Pertama adalah dempul tempe yang menggunakan potongan tempe sebagai isian. Kedua adalah dempul teri, yang memadukan rasa gurih teri kecil dengan tepung gaplek. Kedua varian ini digoreng dengan minyak panas hingga bagian luarnya mengering, sementara bagian dalamnya tetap kokoh dengan cita rasa tepung singkong yang khas. Aroma minyak panas, tepung gaplek, dan gurih tempe atau teri membuat dempul menjadi kudapan yang sangat menggugah selera.
Makanan ini mudah ditemukan di pasar pagi hari. Para pedagang menaruhnya di tampah atau nampan besar, ditata rapi dalam baris-baris yang menggiurkan. Pembeli yang datang biasanya membawa pulang beberapa potong untuk dijadikan lauk makan siang atau sebagai teman minum teh hangat di pagi hari. Dempul sangat cocok disantap bersama nasi hangat, dengan sensasi lembut nasi yang bertemu tekstur kenyal dari balutan tepung gaplek. Bagi sebagian orang, menikmati dempul sebagai camilan juga sudah cukup memuaskan, terutama karena rasa gurihnya yang kuat dan mengenyangkan.
Kehadiran dempul tidak hanya menunjukkan kreativitas masyarakat dalam mengolah pangan lokal, tetapi juga mencerminkan kearifan dalam memanfaatkan singkong. Tepung gaplek yang menjadi bahan utama merupakan olahan singkong yang telah lama menjadi sumber pangan penting bagi masyarakat Jawa Timur, terutama saat musim paceklik. Penggunaan gaplek dalam kuliner seperti dempul menunjukkan kemampuan masyarakat untuk mengolah bahan pangan sederhana menjadi sajian bernilai, baik dari sisi rasa maupun ekonomi.
Dalam konteks kehidupan masyarakat kampung, dempul bukan sekadar makanan. Ia adalah penanda ikatan antara manusia dengan tanah yang mereka garap. Singkong yang tumbuh di halaman, teri yang diperoleh dari pasar, minyak yang dipanaskan di wajan, semuanya membentuk harmoni yang mencerminkan nilai kehidupan sederhana tetapi penuh syukur. Melalui dempul, kita dapat melihat bagaimana masyarakat menjaga hubungan dengan sumber pangan tradisional, merawat budaya kuliner, dan membangun kebersamaan melalui hidangan yang dapat dinikmati siapa saja.
Di tengah arus modernisasi yang membuat banyak makanan tradisional mulai terpinggirkan, dempul tetap bertahan sebagai salah satu kuliner yang dicari. Keunikan rasa dan teksturnya membawa nostalgia dan keterikatan emosional bagi masyarakat yang tumbuh di sekitarnya. Kudapan ini mengingatkan bahwa kelezatan tidak selalu harus berasal dari bahan mewah. Justru dari bahan sederhana seperti tepung gaplek, masyarakat mampu menciptakan makanan yang bertahan lintas generasi.
Akhirnya, dempul mengajarkan kita bahwa kearifan lokal memiliki nilai yang tak ternilai. Makanan ini menghubungkan manusia dengan alam, mengingatkan akan pentingnya memanfaatkan sumber pangan lokal, dan menyampaikan pesan bahwa tradisi kuliner tidak hanya tentang apa yang dimakan, melainkan juga tentang cerita, ingatan, dan kebersamaan yang menyertainya.