Di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Balonggebang, Kabupaten Nganjuk, tersimpan kisah lama yang hidup dari cerita mulut ke mulut. Kisah ini tidak ditulis dalam kitab kerajaan atau prasasti batu, melainkan dirawat oleh ingatan para sesepuh desa. Dari cerita cerita itulah masyarakat Balonggebang memahami asal usul tanah tempat mereka berpijak, sekaligus makna penting pangan yang bersumber dari alam.
Sebagian warga meyakini bahwa leluhur mereka berasal dari para pelarian keluarga dan prajurit Pangeran Diponegoro yang menghindari kejaran musuh. Mereka mencari tempat yang aman, sunyi, dan mampu menopang kehidupan. Namun versi lain yang lebih kuat berakar pada kisah sebuah danau air tawar yang dahulu terletak tepat di tengah wilayah desa.
Menurut penuturan para sesepuh, pada masa lampau Balonggebang belumlah seluas sekarang. Di jantung wilayahnya terbentang sebuah balong, danau kecil berair jernih dan segar. Airnya bening, sejuk, dan tidak pernah surut meski musim kemarau panjang. Danau ini menjadi tempat singgah para pengembara yang melintasi jalur pedalaman Jawa Timur. Ada yang berjalan kaki, ada pula yang datang menunggang kuda atau mengemudikan dokar dan pedati.
Di tepi balong itulah mereka berhenti. Tubuh yang letih dibasuh air danau, dahaga dilepas dengan meneguk air tawar yang menyegarkan. Kuda kuda diberi minum, perbekalan diatur kembali, dan malam sering dilewati dengan beristirahat di bawah langit terbuka. Dari danau ini pula para pengembara mendapatkan pangan. Ikan ikan air tawar mudah ditangkap dengan alat sederhana, menjadi lauk pengganjal perut sebelum perjalanan dilanjutkan.
Lambat laun, balong ini dikenal luas sebagai tempat peristirahatan yang aman dan tenteram. Airnya tidak hanya menyelamatkan musafir dari kehausan, tetapi juga memberi kehidupan melalui ikan dan tumbuhan air di sekitarnya. Banyak pengembara akhirnya memilih menetap, mendirikan gubuk di tepi danau, lalu membuka lahan kecil untuk bertani.
Di sekitar balong tumbuh pohon gebang, sejenis palem yang daunnya lebar dan kuat. Pohon ini dimanfaatkan untuk atap rumah, anyaman, dan perlengkapan hidup lainnya. Dari sinilah kawasan permukiman itu kemudian dikenal dengan nama Balonggebang, yang berarti danau air tawar yang dikelilingi pohon gebang.
Seiring waktu, permukiman berkembang menjadi beberapa dusun. Nama Balongrejo dan Kedungrejo pun muncul, yang secara makna masih berkaitan erat dengan balong. Dalam bahasa Jawa, balong dan kedung sama sama berarti kolam atau danau air tawar, sementara rejo bermakna ramai. Ketiga nama ini mencerminkan kenyataan bahwa wilayah tersebut sejak awal adalah tempat berkumpulnya banyak orang karena sumber air dan pangan yang melimpah.
Keberadaan Balonggebang sebagai kawasan tua juga diperkuat oleh temuan benda purbakala. Menurut catatan sejarah Nganjuk, pernah ditemukan lingga batu, patung perunggu, serta pecahan uang logam kuno di area persawahan Dusun Kedungrejo. Temuan ini menjadi saksi bisu bahwa wilayah Balonggebang telah lama dihuni dan memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah manusia di tanah Nganjuk.
Bagi masyarakat Balonggebang, air dan ikan dari balong bukan sekadar sumber pangan. Keduanya adalah penopang hidup, alasan orang datang, dan dasar tumbuhnya kebersamaan. Dari danau itulah tercipta ruang perjumpaan, pertukaran cerita, dan awal terbentuknya komunitas.
Kini, balong itu mungkin tidak lagi tampak seperti dahulu. Namun jejaknya masih hidup dalam nama desa, ingatan kolektif, dan pola hidup masyarakat yang tetap menghormati air dan alam sekitarnya. Sawah, sungai, dan sumber air diperlakukan dengan penuh kehati hatian karena di sanalah kehidupan bermula.
Kisah Balonggebang mengajarkan bahwa pangan tidak selalu hadir dalam wujud yang rumit. Air yang jernih dan ikan yang tumbuh alami telah cukup untuk menghidupi manusia dan membangun peradaban kecil. Dari kearifan lokal ini, kita belajar bahwa menjaga alam berarti menjaga sumber pangan, menjaga kehidupan, dan menjaga harmoni antara manusia dan lingkungan yang telah memberi mereka tempat berpulang.