Desa Balongmojo

URL Cerital Digital: https://desabalongmojo.gresikkab.go.id/artikel/2022/7/21/sejarah-desa-balongmojo

Pada zaman dahulu, di tanah Jawa Timur yang subur, terbentang sebuah pedesaan bernama Balongmojo. Daerah ini begitu hijau, dipenuhi pepohonan rindang dan semak belukar yang lebat, bagaikan hutan luas di atas tanah datar. Masyarakat yang tinggal di sana hidup rukun meski jumlah mereka sedikit dan kehidupan masih sangat sederhana. Mereka menggantungkan hidup dari hasil bumi, terutama dengan bercocok tanam di tanah yang subur itu.

Namun, tidak semua sudut desa itu bersahabat. Ada satu tempat yang sangat wingit, penuh misteri, hingga orang-orang tua menyebutnya dengan istilah “Jalmo Moro Jalmo Mati” yang berarti siapa saja yang datang ke sana pasti akan celaka, bahkan kehilangan nyawa. Karena keyakinan itu, penduduk desa tidak berani keluar rumah pada malam hari.

Di tempat yang dianggap angker itu berdiri sebuah kolam besar yang oleh masyarakat Jawa kuno disebut balong. Tidak jauh dari kolam tersebut tumbuh sebuah pohon mojo, yaitu pohon dengan buah berwarna hijau kekuningan yang rasanya sangat pahit. Kehadiran kolam dan pohon inilah yang kelak membuat desa itu dikenal dengan nama Balongmojo.

Waktu berjalan, kisah angkernya tempat itu lambat laun mereda. Kolam yang dulu menakutkan kini justru menjadi anugerah besar bagi masyarakat. Balong itu menyimpan air yang sangat berguna, terutama saat musim kemarau panjang. Para petani memanfaatkan airnya untuk mengairi sawah dan ladang, sehingga mereka tetap bisa bercocok tanam meski hujan tak kunjung turun. Air dari balong menjadi penopang kehidupan dan menyelamatkan hasil panen.

Sementara itu, pohon mojo dengan buahnya yang pahit seolah menjadi simbol dari perjalanan hidup masyarakat desa. Buahnya memang tidak lezat untuk dimakan, tetapi rasa pahitnya mengingatkan orang bahwa hidup kadang tidak selalu manis. Namun dari rasa pahit itulah lahir keteguhan dan kesabaran, nilai yang diwariskan turun-temurun oleh para tetua desa kepada anak cucu mereka.

Hingga kini, masyarakat Balongmojo masih menjaga cerita itu. Mereka memandang kolam sebagai sumber kehidupan, dan pohon mojo sebagai pengingat agar tidak gentar menghadapi kesulitan. Cerita rakyat ini menjadi cermin bagaimana pangan, baik berupa air maupun hasil pohon, bukan hanya sekadar kebutuhan jasmani, melainkan juga mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang mendidik.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.