Pada masa lampau, di tanah Madura yang tandus dan panas, hiduplah seorang tokoh sakti bernama Jokotole. Ia dikenal sebagai sosok pemberani, bijaksana, dan memiliki kesetiaan tinggi kepada keluarganya. Suatu hari, Jokotole melakukan perjalanan panjang bersama Dewi Retnadi, seorang perempuan mulia yang menemaninya menuju wilayah timur pulau itu.
Perjalanan mereka tidaklah mudah. Matahari bersinar terik, angin kering berhembus dari arah laut, dan jalan berbatu membuat langkah kaki terasa berat. Namun Jokotole tetap berjalan dengan keyakinan dan keteguhan hati. Di tengah perjalanan itu, Dewi Retnadi merasa kehausan. Suaranya lembut namun lemah saat meminta seteguk air.
“Jokotole, tenggorokanku terasa kering sekali. Adakah tempat di sekitar sini yang memiliki air?”
Mendengar itu, Jokotole segera mencari sumber air di tengah alam yang kering. Ia berjalan menyusuri jalan setapak hingga menemukan sekelompok warga yang tinggal di sebuah perkampungan kecil. Dengan penuh hormat, ia meminta air untuk sang Dewi.
Warga desa menyambut Jokotole dengan ramah. Mereka mengambil air dari sumber yang tak jauh dari perkampungan itu. Saat Jokotole meneguk setetes air tersebut, ia terkejut oleh kesejukannya. Air itu terasa dingin dan jernih, berbeda dengan air pada umumnya di daerah tandus Madura. Dengan rasa syukur, ia segera membawa air itu kepada Dewi Retnadi. Begitu sang Dewi meneguknya, wajahnya kembali berseri, dan tubuhnya terasa segar kembali.
Masyarakat sekitar pun heran melihat betapa sejuk dan segarnya air dari sumber itu, bahkan saat hari sedang panas-panasnya. Jokotole lalu berkata kepada warga desa:
“Air ini bagaikan anugerah dari langit. Jagalah ia baik-baik, karena di tengah panasnya tanah Madura, air seperti ini adalah berkah.”
Sejak saat itu, daerah tersebut dinamakan Desa Banyocellep, yang berarti desa air dingin. Nama ini menjadi penanda bahwa di tempat itulah pernah mengalir air yang menyegarkan para pengelana, memberi kehidupan, dan menjadi sumber kesejahteraan masyarakat sekitar.
Bagi masyarakat Madura, air bukan hanya sekadar kebutuhan fisik. Ia juga memiliki makna spiritual dan sosial. Air adalah sumber pangan utama yang menumbuhkan hasil bumi, menyejukkan hati, dan menjadi lambang keramahtamahan penduduknya. Dari cerita ini, masyarakat belajar tentang rasa syukur terhadap alam dan pentingnya menjaga sumber daya air agar kehidupan tetap lestari.
Kini, Desa Banyocellep dikenal sebagai tempat yang kaya akan nilai sejarah dan budaya. Kisah Jokotole dan Dewi Retnadi terus diceritakan turun-temurun sebagai pengingat bahwa seteguk air pun dapat menjadi berkah besar bila dijaga dengan tulus dan syukur.