Di lereng perbukitan Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro, terdapat sebuah desa yang namanya menyimpan cerita tua tentang alam, kehidupan, dan pohon yang rimbun. Desa itu dikenal dengan nama Belun. Menurut para sesepuh, sebutan Belun berasal dari kata Jawa ngrembelun, yang artinya rimbun dan teduh. Nama ini tidak muncul begitu saja, melainkan terikat erat dengan keberadaan pohon gayam yang sejak dulu tumbuh menaungi tanah desa.
Konon, sebelum desa itu ramai dihuni manusia, tempat tersebut hanyalah hutan belantara. Di tengah kerindangan pohon gayam, mengalir sebuah sendang atau mata air jernih yang tak pernah kering. Sendang inilah yang membuat pohon gayam tumbuh subur sekaligus menjadi sumber kehidupan bagi siapa saja yang datang. Orang-orang percaya bahwa sendang itu sakral, sebab darinya terpenuhi kebutuhan untuk minum, mandi, bercocok tanam, hingga beternak. Kehadiran air dan kerindangan pohon gayam membuat kawasan itu perlahan-lahan berubah menjadi permukiman. Dari situlah cikal bakal Desa Belun lahir.
Masyarakat Desa Belun tidak hanya menghargai sendang, tetapi juga pohon gayam yang memberikan banyak manfaat. Biji gayam yang keras diolah menjadi makanan, mulai dari direbus hingga digoreng menjadi keripik gurih yang disukai banyak orang. Ada juga yang menumbuk bijinya menjadi tepung untuk bahan pangan alternatif. Sementara itu, daun gayam sering dimanfaatkan sebagai pakan ternak, batangnya dipakai sebagai kayu bakar atau bahkan bahan bangunan sederhana. Pohon gayam, dengan segala bagiannya, benar-benar menjadi penopang kehidupan masyarakat sejak masa lampau.
Keberadaan pohon gayam yang rimbun tidak hanya menghidupi, tetapi juga menyatukan. Di sekitar sendang, masyarakat kerap mengadakan acara sedekah bumi, sebuah tradisi tahunan untuk mengucap syukur kepada Sang Pencipta atas hasil panen dan kehidupan yang tercukupi. Di momen itu, warga berkumpul, membawa hasil bumi, berdoa bersama, dan berbagi hidangan yang sebagian bahannya terinspirasi dari kekayaan alam desa, termasuk olahan biji gayam.
Kini, Desa Belun telah berkembang menjadi pemukiman dengan dua dusun, yaitu Krajan dan Karangrejo, dan dihuni ribuan jiwa. Sebagian besar penduduknya masih setia menjadi petani dan buruh tani, meski ada pula yang membuka usaha konveksi, membuat kerupuk tempe, atau beternak ayam petelur. Dari generasi ke generasi, kepemimpinan desa berganti, dimulai dari Mardjan pada tahun 1940 hingga kini dipimpin oleh Bambang Sujoko. Namun, di balik perubahan zaman, pohon gayam dan sendang tetap berdiri sebagai saksi bisu yang menjaga keseimbangan hidup masyarakat Belun.
Kisah Desa Belun adalah pengingat bahwa pangan tidak hanya berasal dari tanah yang digarap, tetapi juga dari pohon yang tumbuh dengan setia menjaga desa. Gayam bukan hanya pohon rindang, melainkan sumber pangan, sumber kehidupan, dan sumber kebersamaan yang diwariskan dari leluhur hingga hari ini.