Di kawasan Gerbang Salam, tepatnya di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, terdapat dua desa yang menyimpan kisah legendaris tentang perjalanan seorang waliyullah pada abad ke-17, yaitu Kiai Agung Rabah atau dikenal juga dengan Kiai Abdurrahman. Kedua desa itu adalah Dasok dan Murtajih, yang hingga kini namanya lekat dengan jejak spiritual sang wali besar.
Konon, ketika Kiai Agung Rabah melakukan perjalanan dari Rabah menuju Sumenep, beliau sempat beristirahat di sebuah tempat yang kini dikenal sebagai Desa Dasok. Di lokasi itu, beliau menunaikan sholat, namun sebelum itu, beliau menghadapi kesulitan karena tidak menemukan air untuk berwudhu. Dengan keyakinan dan kesalehan yang mendalam, beliau lalu menggali tanah menggunakan tangannya sendiri. Tak lama kemudian, air bening memancar keluar, menjadi sumber kehidupan yang kemudian dinamai Sumur Agung.
Sumur ini menjadi lambang berkah dan keberkahan. Airnya tak pernah kering, bahkan ketika musim kemarau panjang melanda. Hingga kini, air dari Sumur Agung masih digunakan oleh masyarakat sekitar untuk keperluan sehari-hari, seperti minum, mandi, mencuci, dan juga untuk memasak hidangan tradisional Madura. Menurut penjaga sumur, air ini tidak bisa digunakan langsung untuk menyiram tanaman karena justru membuat tanaman tidak tumbuh. Namun, air bekas mandi dan mencuci justru dapat menyuburkan tanah, seolah menegaskan bahwa berkahnya bukan untuk dieksploitasi, melainkan untuk dimanfaatkan dengan penuh rasa hormat.
Dalam kehidupan masyarakat Dasok, air dari Sumur Agung memiliki nilai penting dalam pengolahan pangan lokal. Air tersebut dipercaya memberi cita rasa alami dan kesegaran khas pada berbagai makanan seperti nasi jagung, sayur asem Madura, serta aneka minuman tradisional. Dengan demikian, fungsi air bukan hanya sebagai kebutuhan jasmani, melainkan juga bagian dari tradisi kuliner yang menumbuhkan rasa syukur dan kebersamaan.
Selain kisah tentang Sumur Agung, ada pula legenda yang melatarbelakangi penamaan Desa Dasok. Suatu waktu, ketika Kiai Agung Rabah selesai menunaikan sholat di atas batu besar yang menyerupai sajadah, beliau kehilangan bakiaknya. Bakiak itu kemudian ditemukan setelah beliau dan para muridnya membersihkan semak belukar di sekitar tempat tersebut. Proses pencarian ini dalam bahasa Madura disebut nyalosso’, yang berarti menyusup ke dalam semak. Dari kata inilah nama Dasok berasal.
Kiai Agung Rabah kemudian berkata bahwa tujuh keturunan penduduk di daerah itu tidak akan melahirkan seseorang yang menonjol dalam bidang keagamaan, dan hingga kini masyarakat setempat percaya bahwa ucapan beliau menjadi kenyataan. Namun, meski begitu, masyarakat Dasok tetap menjaga peninggalan beliau dengan penuh penghormatan dan menjadikannya bagian dari identitas spiritual mereka.