Desa Dermo Kediri

URL Cerital Digital: https://kel-dermo.kedirikota.go.id/asal-mula-nama-dermo/

Desa Dermo di Kediri memiliki kisah asal-usul yang sarat dengan nilai sejarah dan kebijaksanaan. Cerita ini berawal dari masa ketika Kerajaan Malowopati berdiri megah di tanah Kediri. Raja yang memerintah saat itu adalah Prabu Angkling Darmo — sosok raja yang dikenal arif, bijaksana, serta sakti mandraguna. Konon, Prabu Angkling Darmo merupakan cucu dari Raja Jayabaya, raja legendaris yang terkenal akan ramalannya dan kejayaannya di masa lampau.

Kerajaan Malowopati kala itu hidup dalam kemakmuran dan kedamaian. Tanahnya subur, hasil pertanian melimpah, dan rakyatnya hidup sejahtera tanpa kekurangan. Dalam menjalankan pemerintahan, Prabu Angkling Darmo dikenal gemar bermusyawarah, selalu mengutamakan keadilan dan mufakat dalam setiap keputusan yang diambil. Ia pun memiliki seorang penasihat bijak bernama Eyang Onggo Dimejo — sosok tua yang menjadi tempat raja berbagi kisah, baik urusan kerajaan maupun pribadi.

Eyang Onggo Dimejo tinggal sekitar 1,5 kilometer di sebelah barat Sungai Brantas. Karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dari istana, Prabu Angkling Darmo kerap mengunjunginya untuk meminta nasihat. Dalam setiap pertemuan, Eyang Onggo Dimejo selalu berbicara dengan tutur kata yang lembut dan penuh makna, hingga membuat sang prabu merasa tenteram dan damai.

Suatu hari, ketika sedang mendengarkan nasihat dari Eyang Onggo Dimejo, Prabu Angkling Darmo merasa begitu tenang hingga tertidur sejenak. Setelah terbangun, Eyang Onggo Dimejo dengan sopan berkata, “Maaf, Prabu, tadi Paduka tertidur.” Dalam bahasa Jawa, tertidur disebut kaderman. Karena merasa terkesan dengan kejadian itu, Prabu Angkling Darmo bersabda, “Untuk mengenang tempat ini, aku beri nama Desa Dermo.”

Dari sabda itulah nama Dermo berasal — diambil dari kata kaderman, yang berarti ketiduran atau beristirahat dalam ketenangan. Sejak saat itu, Desa Dermo dikenal sebagai tempat yang membawa kedamaian dan ketentraman bagi siapa pun yang datang.

Kini, masyarakat setempat masih mengenang jasa dan kebijaksanaan Eyang Onggo Dimejo. Makamnya yang dikenal sebagai Pundhen Desa Dermo sering diziarahi oleh warga sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur yang telah memberikan petuah bijak dan membawa keberkahan bagi desa. Selain nilai sejarah dan spiritual yang kuat, Desa Dermo juga memiliki sumber air yang menjadi penopang utama kebutuhan rumah tangga warganya. Air yang jernih dan melimpah itu dianggap sebagai lambang kehidupan yang diwariskan dari masa kerajaan, menjaga keberlangsungan hidup dan kesejahteraan masyarakat hingga kini.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.