Di tengah hamparan tanah subur Kabupaten Bojonegoro, terdapat sebuah desa yang bernama Deru. Nama desa ini tidak muncul begitu saja, tetapi lahir dari kisah yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak zaman Majapahit, ketika pengaruh Hindu masih kental dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Bukti dari masa itu masih tersisa hingga kini, seperti pohon Asoka yang berdiri kokoh di dua lokasi berbeda, tempat masyarakat dahulu menggelar upacara adat untuk keselamatan dan berkah kehidupan sehari-hari.
Konon, asal mula nama Desa Deru terkait erat dengan kerbau, hewan yang pada masa itu memiliki peran penting dalam kehidupan kerajaan dan masyarakat. Kerbau bukan sekadar hewan peliharaan, tetapi juga sumber pangan yang berharga. Dagingnya menjadi lauk bergizi, sedangkan susunya bisa diolah menjadi minuman dan bahan makanan tradisional. Kerbau juga menjadi penopang kehidupan petani, karena mampu membantu membajak sawah dan membawa hasil panen.
Cerita dimulai ketika Raja Majapahit mengutus seorang tokoh bijaksana bernama Ki Cok Brosot untuk mencari kerbau-kerbau kerajaan yang hilang atau hilang jejaknya. Ki Cok Brosot menelusuri hutan dan padang luas, mengikuti jejak kerbau dari desa ke desa, hingga akhirnya ia menemukan rombongan kerbau sedang beristirahat dengan damai di sebuah tempat yang kini dikenal sebagai Desa Deru. Kerbau-kerbau itu tampak tenang, menggerakkan tubuh besar mereka pelan-pelan, menghembuskan napas berat yang menimbulkan suara gemuruh lembut. Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu menyebut suara itu sebagai “deru,” sebutan yang kemudian menjadi nama desa tersebut.
Sejak saat itu, Desa Deru mulai dikenal sebagai tempat yang diberkahi, tidak hanya karena kesuburan tanahnya tetapi juga karena kehadiran kerbau yang melimpah. Masyarakat desa memanfaatkan kerbau secara penuh. Daging kerbau menjadi sumber protein yang penting bagi keluarga, sementara susu kerbau menjadi bahan pangan dan minuman bergizi yang menyehatkan. Selain itu, kerbau juga berperan dalam pertanian sebagai tenaga penarik bajak, yang membantu sawah menjadi lahan subur untuk menanam padi, jagung, dan sayuran.
Seiring waktu, kisah tentang kerbau-kerbau yang beristirahat itu menjadi legenda lokal. Anak-anak desa tumbuh dengan mendengar cerita Ki Cok Brosot dan kerbau kerajaan, belajar tentang pentingnya merawat hewan sebagai bagian dari kesejahteraan manusia. Setiap generasi baru memahami bahwa kerbau bukan hanya hewan ternak, tetapi juga simbol ketekunan, kerja keras, dan keberkahan yang membangun desa.
Hingga kini, Desa Deru tetap mempertahankan tradisi merawat kerbau. Upacara adat dan kegiatan masyarakat masih kerap mengikutsertakan kerbau, baik sebagai simbol maupun sebagai bagian dari pangan yang diolah dari daging dan susu. Keberadaan kerbau menjadi pengingat akan sejarah panjang desa dan keterikatan masyarakat dengan alam serta hewan ternak yang memberi kehidupan.
Desa Deru bukan sekadar nama, tetapi kisah hidup yang terjalin antara manusia, hewan, dan alam. Dari suara deru kerbau yang damai lahirlah komunitas yang bersatu, penuh rasa syukur, dan hidup makmur berkat pemberian alam serta ketekunan masyarakat yang menjaga warisan leluhur.