Desa Getas

URL Cerital Digital: arnganjuk.jawapos.com/budaya/2175154713/mengenal-nama-dusun-atau-desa-unik-di-kota-angin-dusun-ngawen-punya-pohon-sambi-sebagai-gapura-kerajaan

Di balik suasana tenang Desa Getas di Kecamatan Tanjunganom, terdapat kisah lama yang terus hidup melalui pohon pohon tua yang berdiri bagai penjaga waktu. Selain pohon ploso yang berusia ribuan tahun dan menjadi tempat istirahat Nyai Ngaweningan saat babat alas, desa ini juga menyimpan keberadaan pohon sambi. Pohon ini bukan pohon biasa. Akar akarnya tertanam dalam sejarah panjang, sementara batangnya menjadi penghubung antara masa kini dan masa ketika kerajaan kuno masih bernafas di tanah Jawa.

Menurut penuturan Bambang Budiono, perangkat desa setempat, dahulu ada dua pohon sambi yang tumbuh berdampingan. Kedua pohon itu diyakini sebagai gapura alami menuju Kerajaan Anom Sambijajar, sebuah kerajaan yang konon berdiri megah pada masa silam. Karena jumlahnya dua dan posisinya berjajar, masyarakat percaya bahwa siapa pun yang hendak memasuki kerajaan harus melintas di antara batang pohon itu sebagai tanda hormat sekaligus permohonan izin.

Namun kini, yang tersisa hanya satu. Pohon sambi kedua telah lama mati akibat sambaran petir, menyisakan satu satunya pohon bersejarah yang berdiri di area pemakaman umum. Keberadaannya dijaga dengan pagar yang melingkari batangnya agar tidak rusak dan tetap dihormati sebagai punden desa. Meskipun berada di tengah pemakaman, pohon itu tidak menimbulkan rasa takut. Sebaliknya, ia dirawat dengan penuh penghormatan, karena dianggap sebagai warisan leluhur yang tidak boleh terlupakan.

Pohon sambi memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat setempat, bahkan hingga ke aspek pangan tradisional. Beberapa bagian pohon ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat. Dalam tradisi pengobatan rakyat, daun dan kulit batangnya digunakan untuk meredakan keluhan tertentu seperti demam atau peradangan ringan. Hal ini membuat pohon sambi dihargai tidak hanya sebagai simbol sejarah, tetapi juga sebagai penopang kesehatan masyarakat desa di masa lalu. Pengetahuan ini diwariskan dari generasi ke generasi, sehingga masyarakat memahami bahwa alam selalu menyimpan kegunaan apabila dimanfaatkan dengan bijak.

Pada saat bersih desa, warga Desa Getas selalu mendatangi pohon sambi untuk berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mereka datang dengan pakaian sederhana, membawa doa yang lembut, dan mengucapkan rasa terima kasih atas perlindungan yang diberikan kepada desa. Ritual ini bukan untuk menyembah pohon, tetapi sebagai bentuk penghormatan terhadap perjalanan panjang leluhur yang dahulu hidup dalam kesederhanaan dan gotong royong. Pohon sambi menjadi saksi bahwa masyarakat desa selalu mengutamakan kebersamaan, sebagaimana ajaran Raden Ayu Anjar Kemuning, ratu Kerajaan Anom Sambijajar. Ia pernah berpesan agar rakyat selalu rukun dan saling membantu, karena kekuatan terbesar sebuah kerajaan terletak pada keharmonisan warganya.

Hingga hari ini, pesan itu masih hidup. Warga Desa Getas, terutama di Dusun Ngawen, dikenal sebagai masyarakat yang guyub, ringan tangan, dan senang saling menolong. Nilai nilai itu seolah tertanam di dalam akar pohon sambi dan merambat ke dalam hati setiap penduduk yang tinggal di sana. Mereka percaya bahwa dengan menjaga pohon itu, mereka juga menjaga hubungan dengan masa lalu yang membentuk jati diri desa.

Kisah pohon sambi mengingatkan kita bahwa alam bukan sekadar latar dalam kehidupan manusia. Ia adalah penjaga cerita, penanda masa, dan sumber kehidupan yang kadang hadir dalam bentuk paling sederhana. Dari keberadaan pohon sambi, masyarakat dapat belajar bahwa penghormatan terhadap alam adalah cara untuk menjaga keseimbangan hidup. Pohon yang berusia ribuan tahun ini menjadi simbol bahwa kearifan lokal lahir dari kedekatan manusia dengan alam. Barang siapa merawat alam, maka alam pun akan merawatnya kembali.

Melalui kisah Desa Getas, pembaca diajak untuk memahami betapa pentingnya menjaga warisan alam sebagai bagian dari identitas suatu daerah. Pohon sambi bukan hanya penjaga gerbang kerajaan kuno, tetapi juga pengingat bahwa keseimbangan, kebersamaan, dan rasa hormat kepada alam adalah nilai yang harus terus diwariskan untuk generasi berikutnya.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.