Di sebuah kawasan di Pulau Madura, tersembunyi kisah tentang sumber air yang diyakini memiliki kekuatan dan berkah bagi masyarakat sekitarnya. Sumber itu dikenal dengan nama Bhuju Makkung. Konon, pada masa dahulu kala, tempat ini hanya berupa tanah kering yang sulit ditanami. Penduduknya harus berjalan jauh untuk mendapatkan air bersih. Namun, keadaan berubah ketika suatu hari seorang tokoh bijak yang dikenal masyarakat sebagai Bhuju Makkung datang dan membuka jalan bagi kehidupan baru.
Bhuju Makkung dikenal karena kesalehan dan kepandaiannya membaca tanda-tanda alam. Ia berkelana dari satu tempat ke tempat lain untuk membantu masyarakat menemukan sumber air yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Ketika tiba di wilayah yang tandus itu, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Dengan tongkatnya, ia mengetuk tanah sambil berdoa kepada Sang Pencipta agar bumi di tempat itu memberikan air bagi warganya. Tak lama kemudian, tanah yang kering itu tiba-tiba memunculkan pancaran air jernih. Air itu mengalir lembut, menyebar ke berbagai penjuru, dan tak pernah berhenti hingga kini.
Penduduk yang menyaksikan keajaiban itu bersorak gembira. Mereka percaya bahwa air yang keluar dari tanah itu bukan sekadar anugerah alam, melainkan juga bukti kasih sayang Tuhan yang disampaikan melalui perantara orang saleh. Air itu kemudian dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan: memasak, minum, mandi, hingga mengairi lahan pertanian. Sejak saat itu, kawasan tersebut berubah menjadi daerah yang subur dan makmur.
Sebagai tanda rasa syukur, masyarakat menamai desa tempat sumber itu muncul dengan sebutan Dhili Anyar, yang berarti “air mengalir di tempat yang baru.” Nama ini melambangkan kehidupan baru yang tumbuh dari tempat yang sebelumnya gersang. Bagi warga setempat, air dari sumber Bhuju Makkung memiliki makna yang sangat dalam. Ia bukan hanya sebagai bahan pangan utama untuk menjaga keberlangsungan hidup, tetapi juga simbol keberkahan, kesucian, dan pengingat agar manusia selalu bersyukur atas setiap nikmat yang diberikan alam.
Hingga kini, masyarakat Desa Dhili Anyar tetap menjaga kelestarian sumber air itu. Mereka percaya bahwa selama air tetap mengalir jernih, desa mereka akan terus dilimpahi kesejahteraan. Tradisi menjaga kebersihan sumber air dan mengadakan doa bersama di sekitar tempat itu menjadi bagian penting dari kehidupan sosial dan spiritual masyarakat.
Cerita tentang Bhuju Makkung dan air suci di Dhili Anyar bukan sekadar legenda, tetapi juga cerminan hubungan harmonis antara manusia dan alam. Dari sumber itulah lahir nilai luhur tentang rasa syukur, kebersamaan, dan kesadaran bahwa pangan tidak hanya datang dari kerja manusia, tetapi juga dari kemurahan bumi yang harus dijaga bersama.