Desa Grujugan

URL Cerital Digital: https://www.grujugansumenep.id/artikel/2016/8/26/sejarah-desa#:~:text=Selain%20Dusun%20Palegin%20ada%203,%2D%20%E2%80%A6%E2%80%A6%E2%80%A6...

Di ujung timur Kecamatan Gapura terdapat sebuah desa yang menyimpan kisah panjang tentang keberanian, ketulusan, dan jejak pangan tradisional yang bertahan hingga kini. Desa itu bernama Grujugan. Letaknya berbatasan dengan Desa Banuaju Timur di utara, Desa Jadung di timur, Laut Jawa di selatan, serta Desa Longos di barat. Desa yang dihuni lebih dari tiga ribu jiwa ini sejak dahulu bertumpu pada laut dan tanah sebagai sumber kehidupan. Para lelaki menjadi nelayan, sementara yang lainnya berkebun, mengolah lahan, dan merawat pohon pohon nira yang menghasilkan cairan manis bernama laang.

Laang yang ditampung dari pohon kelapa dan pohon lontar merupakan bahan baku utama pembuatan gula merah. Dari cairan bening itu, masyarakat Grujugan mengolahnya menjadi gula berwarna cokelat kemerahan yang harum aromanya. Bentuknya sederhana, namun rasa manisnya terkenal sampai ke Tanah Jawa. Pada masa silam, kapal kapal dagang dari berbagai pulau di Nusantara sering berlabuh di pantai Grujugan. Para saudagar yang singgah membeli gula merah dalam jumlah besar untuk dijual kembali di Jawa dan tempat lainnya. Gula merah menjadi sumber ekonomi utama penduduk, bahkan menjadi identitas pangan Grujugan yang bertahan lintas generasi.

Namun Grujugan tidak hanya terkenal karena manisnya gula merahnya. Desa ini juga menyimpan kisah kelam tentang peperangan pada masa lampau. Konon pada suatu masa, pasukan Kerajaan Bali yang dipimpin Ratu Jelante dan Pamadi menyerbu wilayah Madura melalui Pantai Dungkek dan Gersik Putih. Mereka bergerak ke arah barat sambil menghadapi perlawanan rakyat setempat. Penduduk melindungi desa mereka dengan segala cara. Salah satunya adalah melempari pasukan musuh dengan batu. Lemparan batu itu begitu banyak hingga menimbulkan bunyi gerujug yang keras. Tempat terjadinya gerujugan itu kemudian dikenal sebagai Grujugan, nama yang mengabadikan keberanian masyarakatnya melawan ancaman dari luar.

Di tengah landasan sejarah yang keras, muncul pula sosok perempuan mulia yang membangun kehidupan rohani dan sosial masyarakat Grujugan. Ia adalah Nyai Sufiah, seorang perempuan berharta yang dikenal masyarakat sebagai Nyai Mali. Nyai Sufiah membuka wilayah Grujugan sebagai tempat permukiman bersama dua perempuan lainnya, Nyai Dewi dan Nyai Sanga. Ia dikenal sebagai sosok yang taat beribadah dan dermawan. Setiap ada orang lewat di depan rumahnya, ia membagi sedekah berupa ketupat. Ketupat bukan hanya makanan, tetapi simbol berbagi rezeki dalam tradisi Madura. Sikapnya yang penyayang mengakar di hati masyarakat dan menjadi contoh tentang kearifan lokal dalam memuliakan pangan sebagai sarana berbagi.

Putrinya, Hj Khadijah, meneruskan semangat itu. Ia bersama KH Jailani dan Kabul Akbar membangun masjid pertama di Dusun Palegin. Masjid itu diberi nama Al Azhar, lalu diubah menjadi Masjid Khadijah Al Azhar sebagai bentuk penghormatan atas keteladanan dan kebaikan almarhumah Hj Khadijah. Masjid itu dibangun di tempat yang dahulu sering digunakan Nyai Sufiah untuk beribadah. Jejak spiritual ini menjadikan Grujugan bukan hanya desa yang hidup dari laut dan lahan, tetapi juga dari nilai yang diwariskan oleh para perempuan suci desa tersebut.

Grujugan sendiri terbagi menjadi empat dusun dengan nama yang mencerminkan kekayaan alam dan sejarahnya. Dusun pertama adalah Palegin, nama yang berasal dari kata legen atau nira. Tanaman nira adalah sumber pangan penting yang menjadi bahan pembuatan gula merah. Dusun ini menjadi pusat pengolahan laang yang melegenda hingga kini. Dusun Karang Mimba mengambil nama dari banyaknya pohon mimba yang tumbuh di pekarangan masyarakat setempat. Dusun Tolasan mengabadikan sebuah batu petilasan dengan bekas telapak kaki yang hingga sekarang tidak diketahui pemiliknya. Sedangkan Dusun Karang Pao dinamai karena banyaknya pohon mangga yang tumbuh di lahan penduduk.

Keempat dusun ini menggambarkan bahwa setiap nama wilayah di Grujugan tidak hanya sebuah penanda tempat, tetapi cerminan kedekatan masyarakat dengan alam. Buah mangga, pohon mimba, nira, bahkan batu yang dianggap memiliki jejak sejarah, semuanya menjadi bagian dari identitas desa. Banyak di antaranya terkait erat dengan pangan, terutama nira yang sejak dahulu menjadi pusat kegiatan ekonomi dan kehidupan sosial.

Dari kisah kisah itu kita belajar bahwa Desa Grujugan dibangun oleh kerja keras para leluhur yang menjaga alam sebagai bagian dari kehidupan. Pangan lokal seperti gula merah dan hasil laut bukan hanya sumber rezeki, tetapi juga lambang hubungan manusia dengan tanah dan laut yang memberi kehidupan. Kedermawanan Nyai Sufiah dengan ketupatnya, kerja sama masyarakat dalam melawan penjajah, serta ketekunan warga menjaga pohon nira hingga menghasilkan gula merah yang harum, semuanya adalah bagian dari kearifan lokal yang patut diteladani.

Melalui cerita tentang Grujugan, kita diingatkan bahwa alam menyediakan kebutuhan kita, tetapi hanya akan terus memberi jika kita menjaganya. Tanaman nira yang menghasilkan gula, pohon mangga yang memberi buah, hingga rumput laut yang kini banyak dibudidayakan masyarakat, semuanya mengajarkan bahwa pangan adalah jembatan antara manusia dan alam. Dengan merawatnya, masyarakat tidak hanya menghidupi dirinya, tetapi juga mewariskan kebaikan bagi generasi berikutnya.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.