Desa Jambuh

URL Cerital Digital: https://repositori.kemendikdasmen.go.id/23870/1/MORTEKA%20DARI%20MADHURA.pdf

Setelah rasa haus mereka terhapus di Desa Banyocellep dengan air yang amat sejuk, Jokotole dan Dewi Retnadi kembali melanjutkan perjalanan mereka menembus tanah Madura yang luas dan panas. Matahari mulai condong ke barat, memberi warna keemasan pada langit. Angin sore berhembus lembut, membawa aroma dedaunan dan tanah kering yang mulai mengendurkan panas siang hari.

Langkah demi langkah mereka tempuh dengan hati lega. Namun perjalanan panjang tentu membuat tubuh letih dan perut lapar. Saat itulah pandangan Dewi Retnadi tertuju pada sebuah daerah yang tampak hijau dan rimbun. Dari kejauhan, tampak deretan pohon jambu yang tengah berbuah lebat. Warna buahnya kuning kemerahan, menggantung di antara daun-daun yang segar.

Dewi Retnadi tersenyum melihat keindahan itu. Ia menatap Jokotole dengan mata berbinar, seolah ingin mengatakan bahwa dirinya ingin mencicipi buah itu. Tanpa menunggu lama, Jokotole segera mendekati salah satu pohon, memetik beberapa jambu yang tampak matang sempurna, lalu menyerahkannya kepada sang Dewi.

Begitu Dewi Retnadi menggigit jambu itu, rasa manis dan segar langsung menyebar di mulutnya. Buahnya lembut, airnya banyak, dan aromanya menenangkan. Senyum pun terukir di wajahnya. Jokotole pun ikut mencicipi, dan merasakan kenikmatan yang sama. Mereka berdua duduk di bawah pohon, menikmati buah jambu sambil berbincang ringan tentang perjalanan dan masa depan yang mereka impikan.

Suasana sore itu menjadi begitu indah. Cahaya matahari yang merembes di antara daun jambu menimbulkan kilau keemasan di wajah mereka. Seolah alam ikut bersuka cita melihat kebahagiaan pasangan itu.

Jokotole berkata lembut kepada istrinya,

“Buah ini manis sekali, istriku. Biarlah tempat ini disebut Desa Jambu, agar orang-orang tahu bahwa di sini pernah tumbuh kebahagiaan dan kesejukan di tengah perjalanan panjang.”

Dewi Retnadi tersenyum sambil mengangguk. Ia tahu, nama itu bukan sekadar penanda tempat, tetapi juga kenangan akan rasa manis yang menyatukan mereka di tengah lelahnya perjalanan.

Sejak saat itu, daerah tersebut dikenal sebagai Desa Jambu, dinamakan demikian karena banyaknya pohon jambu yang tumbuh di sana dan menjadi sumber kesegaran bagi para pengelana. Bagi masyarakat sekitar, buah jambu bukan hanya pangan yang mengenyangkan, tetapi juga simbol kebahagiaan, kesegaran, dan rasa syukur atas berkah alam.

Hingga kini, kisah Jokotole dan Dewi Retnadi di Desa Jambu masih sering diceritakan turun-temurun oleh warga. Cerita ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati bisa hadir dari hal-hal sederhana, seperti seteguk air yang sejuk atau sebutir buah jambu yang manis. Alam menyediakan segalanya bagi mereka yang mau menjaga dan mensyukurinya.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.