Desa Kaligung

URL Cerital Digital: https://radarbanyuwangi.jawapos.com/liputan-khusus/753656393/asal-usul-nama-kaligung-banyuwangi-ternyata-bermula-dari-sumber-air-yang-deras#google_vignette

Di kaki perbukitan Banyuwangi, ketika persawahan masih terbentang luas sejauh mata memandang dan angin lembut menyapu pucuk padi yang menguning, berdirilah sebuah desa bernama Kaligung. Desa ini terdiri dari tiga dusun yaitu Dusun Krajan, Dusun Kramatagung, dan Dusun Pekiwen. Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani. Mereka menggantungkan hidup pada tanah yang subur serta sumber air yang tidak pernah berhenti mengalir sejak zaman leluhur.

Kaligung tidak lahir begitu saja. Nama desa ini berakar dari sebuah kisah lama yang diwariskan turun temurun. Konon, di tengah hamparan sawah di Dusun Pekiwen terdapat sebuah perkampungan kecil bernama Kampung Tratas. Di tempat itulah sebuah mata air muncul dari perut bumi. Airnya jernih bagaikan kaca, mengalir deras tanpa pernah surut, bahkan ketika musim kemarau panjang melanda.

Menurut penuturan warga setempat seperti Holidi yang kini berusia 52 tahun, mata air itu telah ada sejak dahulu kala. Sumber air itu tidak berbentuk sungai atau kali besar, tetapi ukuran alirannya begitu kuat sehingga orang menyebutnya agung. Airnya bergerak terus menerus, menghantam bebatuan kecil, menciptakan suara gemericik yang menenangkan jiwa dan menandai kehidupan yang terus berlangsung.

Sumber air ini kemudian menjadi nadi kehidupan masyarakat sekitar. Alirannya dibendung dan diarahkan melalui saluran irigasi hingga memasuki persawahan milik warga Desa Kaligung dan Desa Karangrejo. Air yang keluar dari mata air itu menjadi sumber utama bagi perjalanan setetes kehidupan yang tak terhitung jumlahnya. Berkat aliran tersebut, padi tumbuh subur, tanaman sayur berkembang, dan kebun kebun kecil yang dikelola warga mampu menghasilkan pangan bagi keluarga mereka.

Dalam kehidupan sehari hari sumber air memiliki fungsi penting sebagai penyedia air minum. Masyarakat dahulu memanfaatkan air dari mata air itu untuk keperluan hidup, mulai dari memasak, minum, mandi hingga memberi minum ternak mereka. Kebersihan air yang keluar dari tanah membuatnya dianggap sebagai hadiah dari alam yang harus dijaga dan dihormati.

Bukan hanya airnya yang membawa manfaat. Di sekitar mata air tumbuh berbagai tanaman yang tetap terawat hingga sekarang. Bambu tumbuh rimbun dengan batang yang menjulang, sementara pohon bendo berdiri kokoh memberikan keteduhan dari terik matahari. Keberadaan tanaman tanaman ini menjadi penjaga alami yang melindungi mata air dari kerusakan. Rimbunnya pepohonan membuat kawasan itu terasa sejuk dan hening. Masyarakat percaya bahwa keseimbangan alam di sekitar sumber air harus dijaga agar aliran air tidak pernah berhenti.

Nama Kaligung sendiri diyakini berasal dari gabungan dua kata yaitu kali yang berarti aliran atau sumber air, dan agung yang berarti besar. Kaligung dapat dimaknai sebagai aliran air yang besar dan agung. Nama itu tepat menggambarkan betapa berharganya mata air di Kampung Tratas, serta bagaimana aliran tersebut telah memberi kehidupan bagi dua desa sekaligus.

Kisah lahirnya Desa Kaligung mengajarkan bahwa pangan tidak hanya berasal dari tanaman atau hewan, tetapi juga dari air yang merupakan unsur utama kehidupan. Tanpa air, sawah tidak dapat menghasilkan padi, tanaman tidak dapat tumbuh, dan manusia tidak dapat bertahan. Masyarakat Kaligung menunjukkan bahwa menjaga sumber air sama dengan menjaga masa depan. Tanah, air, tanaman, dan manusia adalah satu kesatuan yang saling bergantung.

Melalui cerita ini kita diingatkan untuk menghargai alam sebagai pemberi kehidupan. Mata air yang terus mengalir tidak hanya menyajikan air minum bagi warga, tetapi juga mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan alam. Dengan menjaga kelestarian air dan lingkungan sekitar, masyarakat Kaligung mempertahankan warisan leluhur dan membangun masa depan yang selaras dengan alam. Semoga kisah ini menginspirasi kita untuk merawat sumber daya yang kita miliki, menghormati air sebagai anugerah, serta menumbuhkan kesadaran bahwa kearifan lokal adalah panduan yang tak lekang oleh waktu.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.