Pada masa ketika dunia belum mengenal tahun Masehi, wilayah Jawa Timur masih dipenuhi hutan rimba yang lebat. Pohon pohon tinggi menjulang, tanaman obat tumbuh di antara semak, dan berbagai hasil hutan menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat. Di tengah belantara itu berdiri sebuah kerajaan kecil bernama Pujon Manis, dipimpin oleh seorang raja sakti bernama Ki Ageng Keniten. Kekuatannya tersohor, hingga banyak orang percaya bahwa ia mampu memindahkan benda besar, menghilang, atau memanggil angin hanya dengan doa.
Namun kekuatan besar selalu mengundang perhatian. Ki Ageng Keniten pernah menolak mengirim upeti kepada Kerajaan Mataram yang menjadi penguasa wilayah. Penolakan ini membuat posisi Pujon Manis semakin terancam. Suatu hari, di pasar Ngareman, Ki Ageng Keniten bertemu dengan seorang gadis penjual jamu yang lembut tutur katanya. Tanpa diketahui sang raja, gadis itu adalah putri pejabat Mataram yang sengaja dikirim untuk menggali kelemahannya. Ketika bulan purnama bersinar terang, Ki Ageng Keniten yang terpikat mengungkapkan rahasianya. Ia berkata bahwa kelemahannya berada pada tenggorokan, sesuatu yang selama ini tidak diketahui siapa pun.
Informasi itu sampai ke telinga Kerajaan Mataram. Serangan pun dilancarkan. Karena tidak siap, Kerajaan Pujon Manis kewalahan. Ki Ageng Keniten mencoba melarikan diri ke arah utara, tetapi jejaknya terus diikuti. Ia sempat bersembunyi di bawah pohon bendo di Dusun Ngrajek, kemudian bergerak melewati Kadipaten Kandangan. Pada setiap langkahnya, darah berceceran akibat luka pusaka para prajurit Mataram. Jejak itu membawanya hingga Desa Demangan, di dekat Sungai Widas.
Menjelang ajal, dengan napas tersengal, ia berpesan kepada para pengikutnya agar kelak ia dikuburkan di sebelah utara Sungai Widas. Namun karena keadaan mendesak, ia justru dikuburkan di selatan sungai itu. Malam harinya hujan turun sangat lebat. Dalam derasnya hujan, terjadi sebuah keajaiban. Masyarakat melihat selendang panjang seolah melayang dari langit dan menghantam tanah di sekitar sungai. Esoknya, makam Ki Ageng Keniten berpindah ke sisi utara sungai, sesuai wasiatnya. Peristiwa ini membuat warga yakin bahwa ada kekuatan gaib yang menjaga sang raja.
Namun kisah tidak berhenti di situ. Prajurit Ki Ageng Keniten yang berjumlah dua ratus lima puluh orang terkena kutuk. Mereka berubah menjadi kera dan jumlah mereka tidak pernah bertambah atau berkurang. Mitos yang berkembang mengatakan bahwa siapa pun yang membunuh salah satu kera itu akan ikut meninggal pada hari Jumat Pahing. Karena itulah masyarakat sangat menjaga hewan hewan itu sebagai makhluk yang terhubung dengan sejarah desa.
Daerah tempat makam Ki Ageng Keniten kemudian dipelihara oleh seorang pengembara dari Bojonegoro. Empat tahun setelahnya, kawasan itu diberi nama Karang Manglo. Namun lima belas tahun kemudian, seiring perkembangan zaman, nama itu berubah menjadi Karangsemi sampai sekarang. Setiap Jumat Pahing, warga mengadakan sedekah desa atau nyadranan sebagai wujud penghormatan kepada leluhur dan penjaga desa.
Dalam perkembangan awal desa, hutan menjadi sumber kehidupan utama. Hasil hutan seperti kayu keras, daun obat, dan tanaman liar dimanfaatkan oleh masyarakat. Berbagai tanaman di hutan Karangsemi digunakan sebagai obat tradisional, mulai dari akar, kulit kayu, hingga daun yang diramu menjadi jamu. Kayunya yang kuat sering digunakan untuk membangun rumah atau jembatan. Kehidupan masyarakat benar benar bergantung pada alam di sekitar mereka.
Perjalanan waktu membawa banyak perubahan bagi Karangsemi. Tahun 1960 desa ini dilanda banjir besar yang menelan korban dua jiwa. Tahun 1963 hujan abu dari letusan Gunung Semeru mencapai desa dengan ketebalan tiga sentimeter. Pada tahun 1965, 1970, dan 1977 para petani mengalami gagal panen. Tahun 1980 proses pembangunan jembatan di Sungai Widas menelan tujuh korban jiwa. Semua kejadian itu semakin menguatkan kepercayaan masyarakat bahwa alam dan leluhur selalu memberikan isyarat agar mereka tetap hidup dengan hati hati, selaras dengan lingkungan.
Namun di balik semua peristiwa besar itu, satu hal tidak berubah. Masyarakat Karangsemi tetap menghormati makam Ki Ageng Keniten sebagai pusat tradisi. Dari makam itu mereka belajar tentang kebijaksanaan, kesalahan, dan perjalanan seorang raja yang akhirnya menemukan tempat peristirahatan terakhir. Hasil hutan yang menjadi sumber pangan dan obat mengajarkan mereka bahwa alam adalah bagian dari kehidupan yang harus dijaga.
Kisah Desa Karangsemi menjadi pengingat bahwa sejarah sebuah tempat tidak hanya ditentukan oleh manusia, tetapi juga oleh alam yang membentuk dan melindunginya. Tanaman tanaman hutan yang bisa dijadikan obat, kayu kayu yang menjadi bahan membangun, dan hewan hewan yang berhubungan dengan legenda menjadi bagian dari identitas desa. Melalui cerita ini, pembaca dapat merasakan bahwa kearifan lokal terlahir dari hubungan mendalam antara manusia dan alam. Desa Karangsemi mengajarkan bahwa selama manusia menjaga alam, alam pun akan menjaga mereka, sebagaimana selendang gaib yang dulu memindahkan makam sang raja untuk memenuhi wasiatnya.