Di masa silam ketika tanah Blambangan di ujung timur Pulau Jawa masih berupa bentangan hutan lebat yang belum terjamah, datanglah sekelompok pengembara dari wilayah Jawa Tengah bagian barat. Rombongan itu dipimpin oleh seorang tokoh yang disegani bernama Mbah Rekso Wono. Mereka telah menempuh perjalanan panjang, melewati sungai sungai dingin, perbukitan yang berkabut, dan padang rumput liar yang tak berpenghuni. Setelah hari hari berjalan penuh kelelahan, mereka tiba di sebuah kawasan yang sunyi namun terasa subur dan menjanjikan kehidupan baru. Saat itulah mereka memutuskan untuk menghentikan langkah dan membuka hunian di tempat tersebut.
Wilayah itu masih berupa hutan belantara. Pepohonan tinggi menjulang, burung burung liar berkicau dari dahan yang rapat, dan sinar matahari hanya menembus di sela sela daun. Di antara kerimbunan hutan terdapat banyak sekali pohon aneh berukuran sedang dengan bau khas pada getahnya. Orang orang setempat yang mereka temui pada masa awal membuka lahan menyebut pohon itu sebagai pohon jembirit. Dalam bahasa lidah para pengembara yang mulai bercampur dengan kebiasaan baru mereka, sebutan itu perlahan berubah menjadi jembirit lalu kembirit. Dari sanalah nama sebuah desa kelak muncul yaitu Desa Kembiritan.
Pohon kembirit bukanlah tanaman pangan. Buah dan daunnya tidak dapat dimakan karena mengandung racun. Namun justru karena sifatnya yang tidak dapat dikonsumsi itulah pohon ini menarik perhatian pengembara. Mereka mendapati bahwa getah pohon kembirit memiliki manfaat pengobatan tradisional yang sangat berharga. Getahnya digunakan sebagai ramuan untuk mengobati penyakit kulit, membantu meredakan sakit gigi, serta dipercaya bermanfaat untuk penderita TBC pada masa itu. Buahnya juga sering diramu untuk penyembuhan luka ringan. Dengan demikian pohon kembirit menjadi penopang kesehatan masyarakat awal meskipun bukan bagian dari pangan yang dikonsumsi sehari hari.
Mbah Rekso Wono bersama rombongannya melakukan babat alas. Mereka menebas semak belukar, menebang pohon secukupnya, dan membuka jalan untuk mulai mendirikan pondok pondok sederhana. Dari tangan mereka lahirlah cikal bakal pertama dari Desa Kembiritan. Tahun demi tahun berjalan dan para pengembara itu semakin berbaur dengan masyarakat lokal. Dusun pertama yang berkembang adalah Dusun Pandan, Kaliputih, dan Temurejo. Ketika penjajah VOC datang ke tanah Blambangan, penduduk Kembiritan telah lebih mapan. Mereka mempertahankan desa sambil terus membuka lahan agar hunian semakin luas.
Beberapa waktu kemudian, pendatang baru dari Jawa Tengah Mataraman tiba dan turut menetap. Dari kedatangan mereka muncul dusun dusun baru seperti Tebuan yang kelak dikenal sebagai Krajan bagian selatan, Sumberbening yang menjadi Krajan bagian utara, Ringinsari, serta Cendono. Tiap dusun berkembang dengan kekhasan masing masing, namun semuanya tetap menghormati para sesepuh desa yang berperan besar dalam membuka tanah pertama. Tokoh tokoh yang diingat dan dihormati antara lain Durrahman, Sontani, Wongso, Kiran, serta Rekso Wono sendiri.
Desa Kembiritan tumbuh berkat perpaduan antara tekad para pengembara, kesuburan alam setempat, dan tumbuhan kembirit yang menjadi simbol keberadaan desa sejak awal. Meskipun bukan tanaman pangan, pohon kembirit memberikan manfaat penting bagi masyarakat yang membutuhkannya sebagai obat. Keberadaannya juga menunjukkan bahwa tidak semua sumber daya alam berfungsi untuk dimakan. Ada yang hadir sebagai pelindung kesehatan, ada pula yang menjadi penanda sejarah keberadaan manusia di suatu wilayah.
Kisah Desa Kembiritan mengingatkan kita bahwa hubungan antara manusia dan alam tidak selalu berkaitan dengan konsumsi hanya. Ada tumbuhan yang keberadaannya tidak dimaksudkan sebagai pangan namun tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Pohon kembirit menjadi saksi perjuangan para pendiri desa dan menjadi simbol ketahanan hidup dalam menghadapi alam yang masih liar. Nilai kearifan lokal muncul melalui penghormatan kepada tanaman dan tanah yang memberi perlindungan. Pesan moral dari kisah ini mengajarkan bahwa keberkahan tidak selalu berasal dari apa yang dapat dimakan tetapi juga dari apa yang dapat menjaga dan merawat kehidupan. Semoga kisah Desa Kembiritan ini menginspirasi kita untuk terus menjaga alam sekitar dan menghargai setiap sumber daya yang ada di dalamnya.