Di suatu masa ketika Kerajaan Majapahit mulai runtuh dan gemuruh perubahan mengguncang Jawa, banyak penduduk meninggalkan tanah kelahiran mereka. Mereka berkelana mencari tempat baru untuk membangun kehidupan yang damai. Di antara kelompok itu terdapat leluhur masyarakat Osing yang memilih menetap di ujung timur Pulau Jawa. Mereka menolak kembali ketika dipanggil pulang ke Majapahit. Karena itulah mereka disebut Osing yang berarti tidak. Dari keteguhan itulah identitas baru muncul dan kelak menjadi dasar berdirinya Blambangan.
Pada masa awal kedatangan mereka wilayah itu masih diselimuti hutan lebat. Pepohonan menjulang, sungai mengalir jernih, dan udara terasa sejuk. Desa Cungking menjadi tempat pertama para leluhur Osing bermukim. Namun keadaan berubah pada awal 1800 an saat penjajah Belanda masuk dan menekan kehidupan masyarakat. Orang orang Osing pun melarikan diri menuju hutan yang lebih dalam. Mereka mencari perlindungan dari bahaya dan menemukan bentang alam yang dipenuhi pohon kemiri dan durian.
Kemiri tumbuh rindang dengan buah berkulit keras yang menyimpan biji minyak di dalamnya. Meski tidak dimakan langsung, kemiri adalah anugerah bagi kehidupan dapur Nusantara. Biji kemiri ditumbuk untuk menjadi pengental masakan, penyedap rasa pada pecel dan sate, serta pemberi aroma khas pada gado gado dan aneka sayur kuah. Kandungan lemak sehat, protein, zat besi, dan vitamin di dalamnya membantu menjaga energi, meningkatkan kekebalan tubuh, dan memberi kekuatan bagi para pelarian yang memulai hidup baru. Di sisi lain, durian yang harum menyengat tumbuh liar dengan buah berduri yang manis dan legit. Durian menjadi sumber makan pendamping yang bergizi, membantu masyarakat bertahan hidup ketika bahan pangan lain sulit ditemukan.
Keduanya, kemiri dan durian, tumbuh begitu banyak di hutan tempat para leluhur Osing bersembunyi. Tumbuhan itu bukan hanya menjadi sumber daya alam yang bermanfaat, tetapi juga menjadi saksi bisu keberanian mereka. Karena itu ketika mereka menetap di wilayah itu, mereka memberi nama desanya dengan menggabungkan kedua nama pohon tersebut. Dari kemiri dan duren lahirlah nama Kemiren.
Setelah menetap lebih lama, masyarakat Osing di Kemiren berkembang menjadi komunitas yang kaya budaya dan berpegang kuat pada nilai leluhur. Bahasa mereka berbeda dari Jawa, Madura, maupun Bali. Nada berbicaranya halus namun tegas dan selalu disesuaikan dengan siapa mereka berbicara. Mereka memiliki rumah tradisional yang tidak hanya menjadi tempat tinggal tetapi juga simbol filosofi.
Rumah crocogan dengan atap dua sisi adalah ruang untuk menyambut tamu yang melambangkan keterbukaan.
Tikel Balung dengan atap empat sisi menjadi ruang keluarga serta tempat para anggota rumah berkumpul.
Di bagian belakang rumah terdapat bangunan Bapasan dengan atap tiga sisi yang berfungsi sebagai dapur. Di sinilah kemiri diolah menjadi bumbu masakan dan durian kadang diolah menjadi minuman atau kudapan. Kehangatan dapur Osing adalah pusat kehidupan keluarga, tempat aroma wangi masakan bercampur dengan kisah leluhur yang dituturkan dari generasi ke generasi.
Pintu pintu rumah Osing biasanya dihiasi ukiran kayu bermotif Kawung. Motif itu melambangkan pengendalian diri, ketegasan, kesetiaan, serta hubungan manusia dengan alam. Semua kesenian masyarakat Kemiren memuat filosofi yang dalam. Dari batik, tenun, tari, musik, hingga ritual keagamaan dan adat istiadat yang dijalankan sepanjang tahun, semuanya menunjukkan betapa masyarakat Osing menjaga identitas budaya mereka dengan sepenuh hati.
Kemiren bukan hanya tempat tinggal. Ia adalah wujud perjalanan panjang para leluhur yang mempertahankan tradisi walau harus mengungsi ke hutan jauh dari penjajah. Pohon kemiri dan durian yang tumbuh subur di sana menyelamatkan mereka pada masa sulit dan kemudian menjadi identitas desa. Kedua sumber daya alam itu mengajarkan bahwa pangan bukan hanya perkara apa yang kita makan, tetapi juga bagaimana alam menyediakan kekuatan melalui cara yang kadang tidak kita duga. Kemiri menguatkan tubuh melalui bumbu, sementara durian mengenyangkan perut dan memberi kegembiraan melalui rasanya yang khas.
Kisah Desa Kemiren mengajak kita menjaga hubungan yang selaras antara manusia dan alam. Dari pohon kemiri dan durian masyarakat Osing menerima kehidupan, dan dari masyarakat Osing pula alam mendapatkan penjaga yang setia. Nilai kearifan lokal yang bisa dipetik adalah bahwa budaya tidak akan hilang selama masyarakatnya merawat alamnya, menghargai leluhurnya, dan hidup dengan kesadaran bahwa ketahanan pangan dimulai dari kecintaan kepada tanah tempat mereka berpijak. Kemiren menjadi simbol bahwa identitas lahir dari keberanian untuk bertahan dan dari kemampuan membaca karunia alam sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan hidup manusia.