Di sebuah sudut Kabupaten Jombang, tepatnya di Kecamatan Ploso, berdirilah Desa Losari yang menyimpan kisah lama penuh makna. Cerita tentang asal-usul desa ini tidak memiliki satu versi tunggal. Setiap orang tua dan sesepuh desa memiliki kisah berbeda yang diwariskan dari mulut ke mulut. Namun, di antara berbagai versi itu, ada satu yang paling sering disebut, yakni cerita tentang pohon wungu. Pohon ini diyakini sebagai saksi bisu sejarah panjang Desa Losari dan masih tegak berdiri hingga hari ini di tengah hamparan sawah Dusun Sidopulo Timur.
Menurut cerita, pohon wungu itu pertama kali ditanam oleh seorang sesepuh desa pada masa kepemimpinan Kepala Desa Musban. Sejak saat itu, pohon tersebut tumbuh subur, seakan enggan runtuh meski dimakan waktu. Akar-akarnya menghunjam dalam ke tanah sawah, daunnya tumbuh lebat, dan batangnya menjulang gagah. Pohon ini menjadi penanda penting bagi masyarakat desa, bukan hanya sebagai pohon biasa, melainkan sebagai sumber kehidupan dan simbol keberkahan.
Pohon wungu diyakini memiliki khasiat luar biasa. Daun dan bagian lainnya digunakan sebagai obat herbal yang ampuh. Warga percaya ramuan dari pohon ini dapat membantu melancarkan pencernaan, mengatasi sembelit, bahkan menjadi penolong bagi penderita ambeien. Tidak hanya itu, pohon wungu juga dikenal mampu mengontrol kadar gula darah sehingga sering dijadikan obat alami untuk membantu penderita diabetes. Khasiat ini membuat pohon wungu dihormati, dirawat, dan bahkan dijadikan bagian penting dari tradisi pengobatan masyarakat Losari.
Namun, pohon wungu tidak hanya dikenal karena manfaat kesehatannya. Ia juga memiliki sisi sakral yang dihormati masyarakat setempat. Dahulu kala, ada tradisi selamatan atau kaul yang dilakukan di bawah pohon itu. Orang-orang membawa sesaji, menyalakan dupa, dan berdoa dengan khusyuk di bawah rindangnya dedaunan. Mereka percaya pohon ini memiliki kekuatan gaib yang dapat menjadi perantara doa, sekaligus penjaga keseimbangan alam di sekitar desa. Ritual semacam itu kadang masih dilakukan hingga sekarang, meski tidak sesering dulu.
Cerita tentang pohon wungu ini pernah disampaikan oleh Abdul Syarif, seorang pamong desa yang pernah menjabat sebagai Kamituwo sejak tahun 1961. Beliau menyebut bahwa sejak pertama kali dirinya mengabdi, pohon itu sudah ada di sawah Ganjaran Pamong Desa Losari dan tetap hidup hingga kini. Baginya, pohon itu bukan hanya sekadar tanaman, tetapi juga warisan dari leluhur yang menanamnya. Dari pohon wungu, masyarakat Losari belajar untuk menjaga keseimbangan dengan alam, menghormati warisan sesepuh, dan mengambil manfaat dari anugerah Tuhan dengan bijak.
Kini, pohon wungu yang berdiri di persawahan Losari tidak hanya menjadi saksi sejarah, tetapi juga penjaga identitas desa. Ia memberi pelajaran tentang keteguhan hidup, memberikan obat bagi tubuh, dan menjadi lambang persatuan masyarakat yang senantiasa menjaga warisan leluhur mereka. Meski zaman terus berubah, pohon itu tetap menancap kokoh, seakan berbisik lembut bahwa siapa pun yang tinggal di Losari tidak boleh melupakan akar sejarahnya.