Di sebuah sudut tanah Jawa Timur, terdapat sebuah desa bernama Malingmati. Nama desa ini tidak lahir begitu saja, melainkan berakar pada sebuah cerita lama yang diwariskan turun-temurun. Cerita ini bukan hanya menghadirkan kisah tentang kesaktian seorang pendekar, tetapi juga menyimpan simbol penting dari pohon asem atau pohon asam Jawa. Pohon yang buahnya berasa masam itu sejak dahulu dipercaya membawa manfaat besar bagi manusia, baik sebagai bahan pangan, minuman, obat, maupun kayu yang bisa dimanfaatkan.
Alkisah, pada masa lampau hiduplah seorang pendekar sakti bernama Maling Gentiri. Meski namanya berawalan “maling”, ia tidak dikenal sebagai pencuri jahat. Justru sebaliknya, ia adalah seorang yang budiman. Setiap kali mencuri, hasilnya selalu ia bagikan kepada orang miskin dan mereka yang sedang tertimpa kesusahan. Karena sifat inilah, masyarakat tidak membencinya, melainkan justru menghormatinya. Mereka memandang Maling Gentiri sebagai sosok penolong yang keberadaannya membawa keadilan.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung selamanya. Suatu ketika, datanglah seorang maling lain yang juga sakti mandraguna. Pendatang baru itu tidak hanya ingin menandingi Maling Gentiri, tetapi juga ingin merebut pengaruh di wilayah tersebut. Perselisihan tak bisa dihindarkan, dan keduanya pun terlibat dalam pertarungan hebat. Pertarungan itu berlangsung lama, penuh dengan jurus-jurus kesaktian yang membuat masyarakat berdebar menyaksikannya.
Dalam sengitnya duel, maling pendatang itu menantang dengan sombong. Ia berkata kepada Maling Gentiri bahwa bila ia benar-benar sakti, ia harus mampu menusuk dirinya dengan batang pohon asem tempat ia bersembunyi. Pohon asem kala itu berdiri kokoh, akarnya menghunjam dalam ke tanah, daunnya rindang menaungi sekitar, dan buahnya bergelantungan. Pohon asem tidak hanya menjadi tempat berteduh, tetapi juga sumber pangan masyarakat. Buahnya sering dipetik untuk dibuat minuman penyegar atau bumbu masakan, daunnya dimanfaatkan sebagai pelengkap jamu, bahkan kayunya bisa dipakai sebagai bahan peralatan rumah tangga.
Mendengar tantangan itu, Maling Gentiri tidak gentar. Dengan sekali gerakan penuh keyakinan, ia mengambil dahan pohon asem. Ia melemparkannya dengan kekuatan luar biasa hingga dahan itu menembus batang pohon asem yang keras. Tidak hanya pohonnya yang tertembus, tubuh maling pendatang itu pun terkena hantaman dahsyat. Seketika ia jatuh tersungkur dan tewas di tempat. Pertarungan pun usai dengan kemenangan Maling Gentiri.
Peristiwa itu membekas kuat di hati masyarakat. Dari situlah muncul nama desa Malingmati, yang berarti tempat di mana seorang maling sakti mati dalam pertarungan. Bagi masyarakat, kisah ini bukan sekadar cerita kesaktian. Pohon asem yang menjadi saksi peristiwa tersebut diyakini membawa makna bahwa kehidupan manusia selalu membutuhkan keseimbangan. Pohon asem dengan segala manfaatnya mengajarkan bahwa pangan tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menjaga kesehatan dan memberi energi. Sama seperti Maling Gentiri yang menggunakan kesaktiannya bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk menolong sesama.
Hingga kini, masyarakat mengenang pohon asem sebagai bagian dari identitas desa. Buah asem tetap dipakai dalam berbagai olahan makanan khas, seperti sayur asem yang segar, minuman tradisional yang menyegarkan dahaga, bahkan campuran jamu yang menyehatkan. Dari cerita rakyat ini, kita dapat memahami bahwa pangan lokal memiliki peran penting dalam menjaga kesejahteraan dan kesehatan masyarakat.
Desa Malingmati pun terus hidup dengan kisahnya, menyatukan sejarah, budaya, dan pangan. Cerita tentang Maling Gentiri dan pohon asem menjadi warisan yang menegaskan bahwa keberanian, kebaikan, dan pemanfaatan pangan dari alam adalah bekal penting untuk kelangsungan hidup bersama.