Desa Mangundikaran

URL Cerital Digital: https://budaya-indonesia.org/Raden-Mangundikaran-Asal-Mula-Kelurahan-Mangundikaran

Di wilayah Nganjuk, tepatnya di kawasan yang kini dikenal sebagai Mangundikaran, tersimpan sebuah kisah lama yang terus hidup dalam ingatan masyarakat. Kisah ini tidak hanya menandai asal usul sebuah desa, tetapi juga menjelaskan mengapa kunir, sepotong rimpang sederhana dari tanah, dihormati sebagai pangan yang menyimpan daya penyelamat.

Mangundikaran dipercaya bermula dari sebuah tragedi besar yang terjadi pada masa akhir kejayaan Majapahit. Kala itu, dua orang utusan Raja Brawijaya, Raden Bujang Anung dan Raden Mangun Kusuma, menyusuri wilayah hutan lebat di Nganjuk dalam misi mencari Jaka Papak, putra raja yang melarikan diri dari istana. Dalam penyamaran sebagai pengamen, keduanya membuka hutan dan membangun tempat tinggal sederhana. Dari aktivitas membuka alas inilah, wilayah Mangundikaran perlahan terbentuk.

Kehidupan di tengah hutan kala itu bergantung sepenuhnya pada alam. Umbi umbian, dedaunan, dan rimpang rimpang liar menjadi sumber pangan sekaligus obat. Kunir tumbuh subur di tanah hutan yang lembap. Rimpang berwarna kuning ini kerap digunakan untuk menghangatkan tubuh, meredakan sakit perut, dan menjaga daya tahan hidup para penghuni awal wilayah tersebut.

Namun ketenteraman itu tidak berlangsung lama. Konflik antara Raden Bujang Anung dan Raden Mangun Kusuma meletus akibat persoalan batin dan kehormatan keluarga. Pertikaian tersebut berakhir dengan kematian Raden Mangun Kusuma secara mengenaskan. Tubuhnya disiksa hingga tak lagi menyerupai wujud manusia. Peristiwa itulah yang kemudian dikenang sebagai asal mula nama Mangundikaran, sebuah penanda luka, kekerasan, dan pengorbanan.

Roro Suratmi, adik Mangun Kusuma, menguburkan jasad kakaknya di tempat kejadian. Sejak saat itu, tanah Mangundikaran dipercaya menyimpan jejak penderitaan sekaligus kekuatan gaib yang menjaga wilayah tersebut. Masyarakat kemudian memandang alam sekitar dengan sikap hormat. Segala hasil bumi, termasuk pangan, tidak boleh diperlakukan sembarangan.

Dari tanah yang sama, lahirlah kisah tentang serimpang kunir yang hingga kini terus diceritakan. Di Dusun Kedungdandang, yang masih berada dalam lingkar pengaruh Mangundikaran, konon pernah terjadi peristiwa aneh saat sebuah hajatan wayang kayu digelar. Para niyaga tidak menerima upah berupa uang, melainkan hanya serimpang kunir. Hampir semua menolak, kecuali seorang tukang rebab yang anaknya sedang sakit diare.

Kunir itu dimasak dan diberikan kepada sang bayi. Penyakitnya sembuh. Lebih dari itu, sisa kunir berubah menjadi emas. Ketika kabar tersebut menyebar dan warga mencari pemilik hajatan, tidak ditemukan seorang pun. Yang ada hanyalah pohon beringin tua yang sejak lama dianggap sebagai pepunden, penjaga desa, dan saksi awal mula Mangundikaran.

Sejak peristiwa tersebut, kunir tidak lagi dipahami sebagai sekadar bumbu dapur. Bagi masyarakat Mangundikaran, kunir adalah pangan penawar. Ia hadir dalam ramuan jamu, sajian upacara, dan simbol doa keselamatan. Kunir menjadi pengingat bahwa alam menyediakan pangan bukan hanya untuk mengenyangkan, tetapi juga untuk merawat tubuh dan menenangkan jiwa.

Hingga kini, tradisi bersih desa dan penghormatan kepada makam leluhur tetap dijaga. Wayang kayu digelar sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah, sementara kunir selalu hadir sebagai bagian dari ritual dan kehidupan sehari hari. Warna kuningnya menjadi lambang harapan, penyembuhan, dan keseimbangan.

Pada akhirnya, kisah Mangundikaran mengajarkan bahwa sebuah desa tidak lahir semata dari pembukaan lahan, melainkan dari relasi manusia dengan alam dan ingatan kolektifnya. Kunir, rimpang kecil dari tanah Mangundikaran, menjadi simbol kearifan lokal yang mengajarkan bahwa luka masa lalu dapat melahirkan kebijaksanaan, selama manusia mau menjaga alam dan menghormati warisan leluhurnya.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.