Di tanah Jawa bagian timur, tepatnya di wilayah yang kini dikenal sebagai Bojonegoro, berdiri sebuah desa tua bernama Mojokampung. Nama desa ini erat kaitannya dengan pohon mojo, yang dalam bahasa lain disebut buah maja atau Aegle marmelos. Pohon ini bukan hanya sekadar tumbuhan biasa, melainkan memiliki makna yang dalam bagi masyarakat. Buahnya yang keras berisi rasa pahit pernah tercatat dalam kisah besar Majapahit, daunnya sering dipakai dalam ramuan tradisional, bahkan akarnya dipercaya memiliki khasiat untuk kesehatan. Dari sinilah, pohon mojo menjadi simbol kearifan pangan sekaligus lambang keteguhan masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi nilai keberkahan dan kerukunan.
Konon, pada masa lampau hiduplah seorang tokoh bernama Mbah Baeno. Ia berasal dari Tuban dan memilih jalan hidup wadat, tanpa menikah. Hidupnya sederhana, penuh laku tapa, namun ia juga seorang petani ulung. Lahan tegalannya berada di Desa Ngrowo, di sebelah timur jalan yang kini dikenal sebagai Jalan Lettu Suwolo. Tegalan itu penuh dengan tanaman pangan yang ditanam rapi, dikelilingi pagar bambu yang kuat. Namun ada kebiasaan unik dari Mbah Baeno. Setiap kali masa panen tiba, pagar tegalan itu ia buka lebar-lebar. Kepada siapa saja yang lewat, ia selalu berkata dengan suara ramah, “Monggo, monggo, njenengan pendet kemawon yen njenengan kerso.” Artinya, siapa saja boleh memetik hasil panennya sesuka hati.
Sifat murah hati ini mengingatkan masyarakat akan filosofi pohon mojo yang berbuah lebat dan bisa dimanfaatkan oleh siapa pun, bukan hanya sebagai pangan tetapi juga sebagai obat. Pohon mojo tidak pernah pelit memberikan manfaat, begitu pula Mbah Baeno yang membuka hasil panennya untuk dinikmati orang banyak. Dari sinilah terlihat bahwa pangan bukan hanya sekadar sumber karbohidrat atau kebutuhan jasmani, melainkan juga sarana berbagi kebaikan yang mempererat hubungan antarwarga.
Pada masa itu, di sekitar wilayah yang kini menjadi pusat Kabupaten Bojonegoro, hanya ada satu desa besar bernama Mojo. Desa ini berada dalam wilayah Kadipaten Rajekwesi, yang dipimpin oleh seorang lurah bernama Kakisingo. Sang lurah memiliki sawah bengkok yang sangat luas, membentang dari alun-alun Bojonegoro hingga ke Desa Karangpacar. Sawah itu menjadi sumber pangan utama, khususnya padi yang akan dipanen saat musim tiba.
Suatu hari, ketika padi di sawah lurah Kakisingo mulai menguning, Mbah Baeno datang. Ia membawa janur kuning dan mulai menandai tanaman padi dengan cara miyaki, yaitu memberi garis tanda dengan janur di sela-sela hamparan sawah. Dari kejauhan, lurah Kakisingo memperhatikan perbuatan itu. Ia tidak langsung menghentikan, melainkan menunggu hingga Mbah Baeno selesai. Setelah itu barulah ia menghampirinya dan bertanya, “Untuk apa engkau menandai padiku dengan janur kuning?”
Dengan tenang, Mbah Baeno menjawab bahwa tanda itu bukanlah sembarang tanda. Sawah yang padinya diberi janur memiliki arti khusus. Menurutnya, kelak setelah Kadipaten Rajekwesi hancur, pusat pemerintahan akan berpindah ke tempat yang ditandai tersebut. Dan nama wilayah baru itu adalah Bojonegoro. Kata-kata ini bukan sekadar ramalan kosong, melainkan sebuah petunjuk yang kelak terbukti. Seratus lima puluh tahun kemudian, benar adanya, pusat pemerintahan berpindah ke tempat itu, dan Bojonegoro pun lahir sebagai kota penting di Jawa Timur.
Seiring berjalannya waktu, kisah Mbah Baeno dan Desa Mojo menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah. Masih tersimpan peninggalan berupa kendil atau tempat menanak nasi serta pusaka senjata yang diyakini pernah dipakai pada masa itu. Semua ini menjadi pengingat bahwa pangan dan sejarah saling berkaitan erat. Pohon mojo yang menjadi simbol desa, bukan hanya memberi makan tubuh melalui buah dan daunnya, tetapi juga memberi makan jiwa dengan nilai kearifan, keikhlasan, serta kesederhanaan.
Kini, Desa Mojokampung tidak hanya dipandang sebagai tempat tinggal masyarakat yang rukun dan penuh akhlak mulia, tetapi juga sebagai warisan budaya yang menegaskan pentingnya pangan lokal. Pohon mojo tetap dikenang sebagai sumber kehidupan yang menyatukan manusia dengan alam. Buahnya yang bisa diolah menjadi minuman, daunnya yang berkhasiat untuk kesehatan, hingga akarnya yang kuat di tanah menjadi lambang kesabaran. Semua itu menunjukkan bahwa pangan tidak semata-mata soal kenyang, melainkan juga soal keberlanjutan hidup dan kebijaksanaan dalam berbagi.
Dari cerita ini, kita belajar bahwa pangan adalah sumber daya yang harus dijaga, dibagi, dan dimanfaatkan dengan hati yang lapang. Sama seperti Mbah Baeno yang membuka pagarnya bagi siapa saja, demikian pula pangan seharusnya menjadi jalan bagi terwujudnya kebaikan dan kesejahteraan bersama.