Desa Mojopurogede

URL Cerital Digital: https://bungah.gresikkab.go.id/mojopurogede.html#:~:text=Sehingga%20jika%20diartikan%20secara%20keseluruhan,satu%20desa%20dengan%20Desa%20Mojopurogede.&text=Mata%20pencaharian%20penduduk%20Desa%20Mojopurogede,%C3%9C%20Nelayan%2C%2019%20orang.

Di sebuah sudut Kabupaten Gresik, terdapat desa bernama Mojopurogede. Nama desa ini tidak muncul begitu saja, melainkan lahir dari kisah yang terhubung dengan alam, keyakinan, dan sejarah masa lalu.

Konon, Mojopurogede terdiri dari tiga kata. Mojo berarti buah maja, yaitu buah berkulit hijau yang tampak segar namun rasanya pahit. Orang Jawa lebih akrab menyebutnya mojo. Puro berarti tanda, batas, atau tugu. Sementara gede berasal dari bahasa Jawa yang berarti besar. Nama itu dipercaya muncul karena di desa ini terdapat sebuah pohon mojo yang sangat besar, tumbuh menjulang di dekat gapura desa, seakan menjadi penanda bagi siapa saja yang datang. Dari situlah lahir sebutan Mojopurogede, yang jika diartikan berarti sebuah pohon mojo besar yang berdiri di sisi pura atau gapura.

Namun, ada pula cerita lain yang berkembang di tengah masyarakat. Menurut sebagian orang, Mojopurogede berarti memuja di pura besar. Sebab sebelum agama Islam masuk, wilayah ini sudah dihuni penduduk yang menganut kepercayaan Hindu. Desa ini bahkan menjadi salah satu bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Keyakinan itu dikuatkan dengan ditemukannya arca Dwarapala di Desa Mojopurowetan, desa yang dahulu masih satu dengan Mojopurogede. Arca penjaga itu seakan menjadi saksi bisu bahwa tempat ini pernah menjadi pusat pemujaan dan aktivitas spiritual masyarakat di masa lampau.

Meski kedua versi cerita memiliki perbedaan, keduanya berpadu dalam satu kesan yang sama. Desa Mojopurogede lahir dari akar sejarah panjang, di mana pohon mojo menjadi lambang alam dan pura menjadi lambang keyakinan manusia. Buah mojo yang pahit melambangkan kesabaran, bahwa tidak semua yang tampak indah di luar memberi rasa manis. Dari kepahitan itu, masyarakat belajar arti keteguhan hati. Sama halnya dengan penduduk desa yang tetap bertahan, menghormati peninggalan leluhur, sekaligus menjaga alam yang menjadi sumber pangan mereka.

Kini, Mojopurogede bukan hanya sekadar nama desa. Ia adalah cerita tentang hubungan manusia dengan alam dan kepercayaan. Pohon mojo yang dahulu menjadi penanda, kini hadir dalam ingatan kolektif sebagai simbol keseimbangan hidup. Masyarakat desa meyakini bahwa pangan tidak sekadar pengisi perut, melainkan juga sarat makna. Rasa pahit buah mojo adalah pengingat bahwa setiap kehidupan memiliki tantangan, dan hanya dengan kesabaran manusia bisa melewatinya.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.