Di Kecamatan Gresik terdapat sebuah desa bernama Ngipik. Nama desa ini tidak muncul begitu saja, melainkan berasal dari kisah kepahlawanan seorang tokoh besar bernama Raden Sunaryo, yang lebih dikenal sebagai Mbah Aryo. Ia adalah seorang panglima gagah berani sekaligus senopati Sunan Giri, salah satu wali besar di tanah Jawa.
Mbah Aryo bukan orang sembarangan. Ia merupakan keturunan dari Adipati Gresik, Banyak Wedi, dengan istrinya Putri Sekar Kedaton. Sejak muda, ia menimba ilmu bersama Sunan Giri dan Sunan Ampel. Jiwa kepemimpinannya yang tangguh menjadikannya pilar penting saat Giri Kedaton berdiri sebagai kerajaan Islam.
Pada tahun 1481 M, datang serangan besar dari Kerajaan Majapahit di bawah Prabu Girindrawardhana. Sang prabu merasa iri dan terancam oleh kejayaan Giri Kedaton yang semakin berkembang. Ribuan prajurit Majapahit menyerang, namun Mbah Aryo dengan gagah berani memimpin pertahanan. Ia berperang tanpa gentar, layaknya ksatria dari Madura yang lebih memilih gugur terhormat di medan laga daripada menyerah.
Dalam pertempuran dahsyat itu, Mbah Aryo akhirnya gugur sebagai syuhada. Namun, sebuah keajaiban terjadi. Seekor kuda putih kesayangannya membawa jasad sang senopati pulang ke rumah untuk dimakamkan. Makam tersebut sempat disembunyikan agar aman dari gangguan musuh, hingga pada abad ke-18 M, saat masa penjajahan Belanda, makam itu ditemukan kembali melalui petunjuk gaib.
Menurut kisah para sesepuh, pada suatu malam seorang warga mengalami kesurupan dan berkata, “Sun Raden Aryo saking Meduro, sun berarti ingsun,” yang menyingkap keberadaan makamnya. Sejak saat itu, masyarakat menyebut beliau sebagai Wong Apik, orang baik yang selalu dikenang. Dari sebutan Wong Apik inilah lahir nama desa Ngapik, yang kemudian berkembang menjadi Ngipik.
Tradisi penghormatan kepada Mbah Aryo terus dijaga oleh warga. Setiap bulan Safar, masyarakat mengadakan haul di depan makamnya. Acara itu disertai selametan dan tradisi tolak balak. Dalam selametan ini, masyarakat menggelar tikar keloso sebagai alas makanan. Keloso yang terbuat dari anyaman daun pandan atau gebang bukan sekadar tikar, melainkan simbol kebersamaan. Di atasnya, berbagai hidangan disajikan untuk disantap bersama sebagai bentuk doa dan syukur.
Nilai inilah yang menjadi inti dari kisah Desa Ngipik. Pangan bukan hanya sekadar pengisi perut, tetapi juga menjadi jembatan antara manusia dengan Tuhan dan sesama. Lewat tradisi selametan, masyarakat diajarkan arti kebersamaan, doa, dan kerja sama. Keloso menjadi saksi bahwa pangan, meskipun sederhana, mampu mengikat solidaritas warga desa sekaligus menjaga warisan leluhur.
Kini Desa Ngipik tetap hidup sebagai bagian penting dari sejarah Gresik. Setiap haul Mbah Aryo, kisah kepahlawanannya kembali dikenang. Dan di atas keloso, pangan tradisi kembali menguatkan tali persaudaraan, seolah menghadirkan kembali semangat Wong Apik yang bijak dan penuh keberanian.