Di tanah subur Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, terbentang sebuah desa bernama Ngrandulor. Desa ini terdiri dari tujuh dusun yang hidup berdampingan dalam keharmonisan: Ngumpak, Macean, Kepuhsari, Balongganggang, Gempoldampet, Sucen, dan Ngrandon. Dari sekian banyak dusun itu, nama Ngrandon dianggap sebagai asal mula lahirnya pemerintahan desa dan menjadi pusat kehidupan masyarakat.
Konon, pada masa lampau, wilayah yang kini disebut Ngrandulor adalah hamparan tanah hijau yang diteduhi oleh pohon-pohon randu yang menjulang tinggi. Di setiap musim kemarau, pohon randu menampakkan keelokannya dengan bunga putih yang bermekaran di dahan, dan ketika waktunya tiba, buahnya pecah mengeluarkan serat kapuk putih lembut yang beterbangan di udara seperti salju tropis. Pemandangan itu selalu memikat hati siapa pun yang melihatnya.
Masyarakat kuno percaya bahwa pohon randu adalah anugerah dari bumi. Buah mudanya sering dimanfaatkan sebagai lalapan yang lezat, memberikan rasa segar dan kandungan kalsium alami bagi tubuh. Sementara daun mudanya menjadi bahan ramuan tradisional untuk menjaga kesehatan dan melancarkan pencernaan. Tidak hanya itu, biji randu juga disebut berpotensi menjadi sumber pangan alternatif jika diolah dengan benar, karena kaya akan minyak nabati yang bergizi.
Namun, bagi masyarakat Ngrandulor tempo dulu, pohon randu bukan sekadar sumber pangan. Ia adalah simbol kehidupan, tempat bernaung, sekaligus bagian dari sejarah mereka. Dari bijinya, dihasilkan kapuk yang lembut dan ringan, digunakan untuk membuat kasur dan bantal. Kapuk randu menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian warga. Saat malam tiba, orang-orang desa beristirahat di atas kasur kapuk buatan tangan sendiri, menikmati kenyamanan dari pohon yang tumbuh di tanah mereka sendiri.
Dari cerita para sesepuh, asal mula nama Ngrandulor berasal dari keberlimpahan pohon randu di masa silam. Mereka menyebut wilayah itu sebagai “tanah randu” atau tempat di mana pohon randu tumbuh dengan megah. Seiring waktu, pengucapan dan penulisan berubah menjadi Ngrandulor, sebuah nama yang kini melekat pada desa dan menjadi identitas turun-temurun.
Namun, ada pula versi lain yang lebih tua, berhubungan dengan legenda yang sering diceritakan di Jombang, yakni kisah pertarungan Kebokicak dan Surontanu, dua tokoh sakti yang dikenal dari cerita rakyat daerah ini. Menurut kepercayaan warga, pertempuran besar antara keduanya pernah terjadi di Dusun Sucen, salah satu dusun di Desa Ngrandulor. Dari kata sucen yang berarti penyucian, diyakini bahwa tempat itu dahulu menjadi lokasi pembersihan diri setelah pertempuran sakral tersebut. Hingga kini, lokasi itu dianggap keramat, dijaga dan dihormati sebagai bagian dari warisan sejarah desa.
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Ngrandulor tumbuh dengan semangat menghargai warisan leluhur. Mereka mengenal baik nilai-nilai yang ditanamkan dari masa lalu: kesederhanaan, gotong royong, dan rasa syukur atas karunia alam. Di musim tanam, para petani berjalan ke sawah dengan bekal makanan yang dibungkus daun pisang, sementara anak-anak bermain di tepi kebun, di bawah rindangnya pohon randu yang masih tersisa di beberapa sudut desa.
Kini, meskipun sebagian besar pohon randu telah berganti dengan lahan pertanian dan pemukiman, nama dan maknanya tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Pemerintah desa pun terus berupaya menggali kisah dari para sesepuh agar sejarah Ngrandulor tidak pudar dimakan waktu. Dalam setiap upacara desa, doa dan harapan selalu dipanjatkan agar desa ini tetap sejahtera, subur, dan dilimpahi keberkahan seperti masa ketika pohon randu tumbuh di setiap penjuru tanahnya.
Desa Ngrandulor adalah bukti bahwa sebuah nama dapat menyimpan perjalanan panjang manusia dengan alamnya. Dari pohon randu, lahir kisah tentang kehidupan, ketekunan, dan kebersamaan. Sebagaimana serat kapuk yang lembut mengisi bantal dan kasur rakyat, begitu pula kisah dan nilai-nilai leluhur mengisi hati setiap warga yang tinggal di tanah Ngrandulor hingga hari ini.